Surau Kito

 

DSCF4355

surauparabek.com

 

Surau Parabek adalah sebuah halaman online yang dirintis dan dikelola oleh sekelompok Alumni Madrasah Sumatera Thawalib di bawah bimbingan Adri Syahrizal, Riki Saputra dan Khairul Ashdiq. Bermula dari diskusi terbatas pada pertengahan Januari 2016, ide ini dikembangkan dan dieksekusi beberapa saat setelahnya, Ide utama dari halaman ini adalah untuk membangun budaya literasi dan tulis-menulis di lingkungan Madrasah Sumatera Thawalib.

Lingkungan di sini bukan dalam makna tempat, melainkan elemen-elemen yang termasuk ke dalam keluarga besar Madrasah Sumatera Thawalib, yang meliputi Yayasan Syaikh Ibrahim Musa (YASIM), Jajaran Pondok dan para guru, terutama para siswa, dan para alumni. Ketika pihak yayasan, pondok, dan guru-guru telah mengambil peran mereka masing-masing dalam mengembangkan diri dan potensi siswa, maka dalam hal ini alumni mengambil peran dengan mengelola halaman online Surau Parabek ini.

Upaya ini merujuk kepada kesadaran terhadap sejarah, bahwasanya reformasi pendidikan Islam di Sumatera Barat pada abad kedua puluh tidak bisa dilepaskan dari budaya literasi. Geliat tulis menulis merupakan salah satu tonggak reformasi itu. Ide-ide tentang kemerdekaan, pendidikan, dan keislaman disebar secara lebih luas melalui majalah-majalah tersebut. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya majalah-majalah pendidikan dan pergerakan yang berbasis di Madrasah. Sejumlah arsip majalah pada awal tahun 1900-an ini bisa dilihat di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau di Padang Panjang. Madrasah Sumatera Thawalib sendiri melibatkan diri dengan penerbitan majalah Al-Bayan. Selain itu, Syaikh Ibrahim Musa, pendiri Madrasah Sumatera Thawalib, dan beberapa guru juga terlibat dalam majalah Al-Munir.

Penamaan Surau Parabek juga merujuk kepada kenyataan sejarah bahwa Madrasah Sumatera Thawalib Parabek pada awalnya juga dimulai dari kajian halaqah di surau sepulangnya Syaikh Ibrahim Musa dari perjalanan haji dan menuntut ilmu ke tanah Hijaz. Dimulai dari gerakan kecil, melangkah pasti dan konsisten melewati segala tantangan mulai dari kondisi politik yang tidak menentu hingga bencana gempa atau kebakaran besar, jejak langkah beliau saat ini telah mewujud menjadi salah satu Madrasah/Pesantren kenamaan di Sumatera Barat. Dengan demikian, penggunaan istilah ini tidak memiliki makna afiliasi sektarian atau semacamnya. Ide yang dikemukakan dengan istilah tersebut adalah simbol dari semangat membangun dari hal kecil dengan tekad melangkah dan menghadapi segala rintangan, layaknya Syaikh Ibrahim Musa yang telah mewariskan lembaga pendidikan penting ini.

Sekali merengkuh dayung, dua tiga pula terlampaui. Rupanya itulah yang diharapkan dengan berjalannya halaman Surau Parabek ini.


Pertama sekali, halaman ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat dan wadah bagi para alumni Madrasah Sumatera Thawalib untuk melabuhkan semangat menulis mereka. Sejauh ini, beberapa alumni terlihat aktif dalam blog pribadi atau di akun media sosial masing-masing.Halaman ini kemudian akan menjadi gerakan sosial yang mengatasi inisiasi pribadi-pribadi tersebut.


Kedua, halaman ini secara tidak langsung juga akan berperan dalam membangun jaringan alumni.


Ketiga, dan yang terutama, halaman ini diharapkan bisa dibaca secara luas oleh para siswa di Madrasah Sumatera Thawalib. Dengan demikian, halaman ini akan menjadi contoh dan penyemangat mereka dalam dunia literasi.[]