HomeFiksiCerpenTepat Sebelum Malam Jatuh #1

Tepat Sebelum Malam Jatuh #1

Cerpen Fiksi 0 0 likes 11 views share

Malam adalah sakral –Meira

Tidak ada seorang pun yang boleh keluar, tidak ada seorang pun yang boleh bersuara. Desa ini adalah kematian di malam hari. Suara tabuh di rumah kepala desa yang berada tepat di tengah-tengah pemukiman selalu berbunyi tiap senja datang, memberi tanda bahwa hari telah berakhir dan dunia akan memasuki kesakralannya.

Dulu saat tinggiku masih sepinggang Ibu, aku pernah bertanya mengapa tak ada seorang pun yang keluar dan membuat suara di tengah malam. Ibu menyamakan tingginya denganku dan malah tersenyum sebagai sebuah jawaban bisu.

Lalu saat tinggiku sebahu Ibu, aku kembali bertanya. Mengapa tak ada seorang pun yang boleh keluar dan membuat suara di tengah malam. Kali ini Ibu menunjuk Ayah untuk sebuah jawaban. Aku menelan ludah. Memilih memadamkan rasa ingin tahu itu dibanding melihat kemurkaan Ayah.

Kini tinggiku sama dengan Ibu, malah berlebih sedikit. Kata orang-orang memang makanan lebih mudah didapat akhir-akhir ini, semenjak sungai berbaik hati mengalirkan airnya sepanjang tahun. Tubuh muda-mudi kini tegap dan kuat. Beberapa bahkan mengalahkan tinggi orang tuanya.

“Mengapa kau ada disini Meira?” tanya Keef bingung.

Di tangan Keef busur panah hadiahku beberapa bulan yang lalu saat upacara kedewasaannya, dia sudah boleh ikut berburu bersama seluruh warga lelaki. Aku merasa tenggorokanku tercekat. Tak ada seorang pun yang seharusnya tahu bahwa aku kabur dari tugasku. Aku bosan memasak rebusan air dan sayur yang dimasak bersama dalam periuk-periuk besar, berharap nantinya periuk ini akan berisi daging rusa yang jarang bisa didapat.

“A-Aku mengambil bumbu Kak” jawabku ragu. Keef terlihat marah, tahu aku berbohong.

“Tidak seharusnya anak kecil sepertimu sendirian di pinggir hutan”

“Aku akan melakukan upacara kedewasaanku tahun depan!” balasku tak terima dipanggil anak kecil lagi.

Keef memanggil Dion, teman sebayanya yang menyebalkan. Berbicara sepatah dua patah kata sebelum menyeretku ke tempat para perempuan berkumpul. Ibu melirik marah karena aku ketahuan menyelinap, sedang yang lain memandang pasrah.

“Ayah akan bicara denganmu nanti” bisik Ibu di telingaku. Tubuhku menegang. Dari seluruh hal yang kutakuti di dunia, Ayah adalah nomor satunya. Gemetaran tanganku mengaduk rebusan yang masih jauh dari mendidih.

Terompet dari tanduk dibunyikan. Ayah berdiri gagah di barisan terdepan dengan menunggang kuda hitam. Di belakangnya beberapa orang juga berkuda, salah satunya yang meniup terompet tanduk. Sedangkan yang lainnya berjalan mengikuti rombongan dengan senjata masing-masing. Keef terlihat di barisan belakang bersama Dion. Mereka baru saja melaksanakan upacara kedewasaan, ini perburuan pertama mereka.

Ibu melambai pada seluruh barisan, namun matanya jelas tertuju pada Ayah. Ayah hanya membalas dengan menundukkan kepalanya singkat. Aku melambai ragu-ragu. Keef menatapku tajam, seolah mengancam supaya aku tak menyelinap lagi.

Waktu berlalu membosankan semenajak Ayah dan yang lainnya pergi. Berkali-kali aku menawarkan diri mencuci peralatan masak, berharap bisa menyelinap barang sebentar saja. Tapi Ibu benar-benar tegas menyuruhku tetap di dekatnya.

Aroma wangi masakan menguar. Ada tidaknya daging buruan, rebusan ini tetap sudah nikmat untuk disantap. Memang sekali dua minggu selalu diadakan perburuan, mengingat konsumsi daging yang rendah karena kami memang hanya bercocok tanam. Periuk di tutup, mencegah lalat hinggap. Kini tugas kami hanya tinggal menunggu.

Aku yakin kini bayanganku sudah lebih panjang dibanding tinggi asliku. Namun belum ada tanda bahwa Ayah akan pulang. Aku juga sudah bosan bermain dengan anak-anak yang usianya jauh di bawahku. Ibu dan beberapa ibu lainnya menenun kain untuk menghapus bosan. Diam-diam aku menyelinap ke sungai.

Dari kejauhan terlihat sesuatu hitam legam berlari ke arahku, mungkin seekor anjing hutan yang ingin minum di sungai. Aku acuh, memutuskan membasuh wajahku yang  berminyak. Namun aku merasa aneh dengan suara dan kecepatan anjing itu, seolah ingin mengejarku, menerkamku.

Dari tengah perumahan terdengar suara pukulan tiang-tiang rumah yang beriring-iringan. Tanda bahaya, biasanya kebakaran. Namun tak ada asap apa pun mengepul. Ayah dan yang lainnya pasti sudah kembali dan mengurus apa pun bahaya itu.

Teriakanku pecah saat sadar anjing hitam itu sudah berdiri di seberang sungai, cakar dan taringnya yang tajam terarah padaku. Itu bukan anjing, serigala. Dan serigala selalu saja datang berkelompok.

Serigala hitam itu melompati lebar sungai yang menjaga agar hewan-hewan hutan tak datang ke pemukiman. Aku berlari sekuat tenaga, namun dengan mudah ia berhasil mengejar. Cakarnya terarah padaku. Refleks aku melompat mundur. Cakarnya meninggalkan luka pada bahuku. Rasa sakit itu tertelan rasa takut.

Tubuhnya menghimpit tubuhku yang telentang di tanah, seperti predator yang akan mencabik bangkai hasil buruannya. Namun aku masih hidup, belum bangkai. Kakiku bangkit dan mencoba berlari sekali lagi. Kali ini cakarnya tepat mengenai rambutku, terasa seperti sebuah jambakan. Namun anehnya, belum juga ia memutus urat di leherku. Semuanya perlahan menggelap.

episode kedua baca di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *