Tepat Sebelum Malam Jatuh #2

episode pertama baca di sini!

Malam adalah sebuah sakral –Keef

Tidak ada seorang pun yang boleh keluar, tidak ada seorang pun yang boleh bersuara. Desa ini adalah kematian di malam hari. Suara tabuh di rumah kepala desa yang berada tepat di tengah-tengah pemukiman selalu berbunyi tiap senja datang, memberi tanda bahwa hari telah berakhir dan dunia akan memasuki kesakralannya.

Aku jatuh cinta.

Pada gadis bersurai selembut kapas, dan bermata seperti keanggunan malam. Aku percaya malam selalu memiliki sesuatu yang berharga, sehingga selalu sakral untuk diganggu bahkan dengan sebuah suara sekalipun. Dan gadis anak kepala desa itu terasa seperti malam. Berbeda, misterius, namun mempesona.

Di hari perburuanku yang pertama, aku melihatnya menyelinap di semak-semak. Berbahaya jika dia sendirian saat nantinya pemukiman akan kosong dari lelaki dewasa, dan seluruh wanita dan anak lelaki berkumpul untuk memasak. Dia tampak gugup saat aku memergokinya. Agak paksa aku membawanya kembali ke pemukiman. Ibu gadis itu berterimakasih. Entah kenapa suatu hari aku berharap bisa memanggilnya Ibu juga.

Dion menggodaku saat gerbang desa dibuka. Kepala desa gagah dengan kuda hitamnya di barisan terdepan. Gadis itu melambai pada ayahnya, ikut pula melambai padaku. Aku pegang erat-erat busur yang dihadiahkannya saat upacara kedewasaanku. Memang sebagai anak kepala desa dia memiliki hak memberi hadiah berupa senjata pada lelaki yang akan ia percayai untuk menjaganya saat nanti ia duduk di posisi kepala suku. Dan dia memilihku, baru aku seorang.

Perburuan berlalu menegangkan. Kami menyelinap di antara rerumputan di padang sabana. Rusa-rusa itu terlihat was-was mendengar suara pergerakan sekecil apa pun. Kepala desa memberi tanda agar kami semakin mendekat, lelaki dengan skill perburuan paling baik berdiri di barisan terdepan. Satu lemparan tombak dari kepala desa menumbangkan seekor rusa. Rusa-rusa liar itu mulai berlarian, dan senjata penduduk mulai melayang ke arah mereka yang lari pada satu arah.

Ada tiga rusa ukuran sedang dan seekor anak rusa yang kami dapat. Anak rusa itu adalah hasil panahanku. Namun bukannya pujian, kepala desa malah menegurku.

“Alam memiliki masa masing-masing. Dan belum masanya kau mengambil nyawa anak rusa itu. Berhati-hatilah untuk kedepannya! Jangan mengambil sesuatu yang tak seharusnya kau ambil!” ujar ayah gadis itu memegang bahuku. Aku mengangguk.

Rusa-rusa itu dipotong menjadi beberapa bagian. Masing-masing kami membawa sebagian agar bebannya tak begitu berat. Rusa kecil itu tak kami potong, dia dikuburkan di dekat sebuah pohon rindang.

Lalu semuanya mendadak terdiam saat rusa-rusa yang tadi berlarian takut kembali berlari ke arah kami. Larinya lebih kencang, dan melewati kami begitu saja.

“Serigala……!!!!!!!!!!!” teriak seseorang.

Kepala desa menaiki kudanya, beberapa orang paruh baya memasang kuda-kuda. Aku menelan ludah. Di perburuan pertamaku aku bahkan mendapat kesempatan melihat penaklukan serigala. Ini sebuah keberuntungan hebat, di satu sisi pun bisa jadi kesialan terhebat dalam hidupku.

Serigala itu datang bergerombol. Tiga ekor serigala mengekor seekor lagi yang tampak paling besar dan mengerikan. Kepala desa dan beberapa orang lainnya memasang posisi melingkar. Sedangkan kami yang berdiri di balik lingkaran yang menyudutkan itu memanahi serigala-serigala itu.

Tiga ekor serigala tampak melindungi yang seekor. Panah kami menancap di sekujur tubuh mereka, namun saat mereka mengibaskan bulu layaknya kucing diguyur air, panah itu berjatuhan hanya dengan sedikit noda darah. Kepala suku memerintahkan salah satu memanah serigala itu dengan racun. Satu kena, mulai terlihat lemah dan tak gesit lagi.

Tiba-tiba serigala hitam yang datang entah dari mana berlari kencang ke arah pemukiman. Kepala desa tak ingin ambil resiko. Sebagian dari kami diminta mengejar serigala itu, memastikan pemukiman aman.

Aku ikut berlari ke desa. Lariku jauh lebih cepat dari Dion yang memang massa tubuhnya lebih dariku. Teringat aku akan jalan pintas yang dulu pernah kutemukan di antara semak hutan tak lebat. Instingku memintaku berlari ke sana, menuju sungai yang nantinya hanya perlu ku lewati agar sampai ke pemukiman. Aku berlari sekuat tenaga. Nama Meira menghantuiku. Entah kenapa serigala hitam legam itu juga mengingatkanku pada malam, sama sepertinya.

“Lewat mana kau Keef!” teriak Dion memanggil. Aku tak peduli. Dion sepertinya mengikuti langkahku.

Lalu setelah detik-detik yang terasa begitu lama, aku akhirnya sampai di sungai itu. Sebuah perahu yang tertambat menjadi aksesku untuk sampai ke desa, sayang aku harus menunggu Dion yang baru datang beberapa saat. Suara ketukan tiang rumah yang beriring-iringan membuatku sadar bahwa aku datang terlambat. Dion malah menghardikku. Padahal seharusnya jalan ini lebh cepat, tapi aku terlambat.

Aku melihat ibu gadis itu berusaha menenangkan anak-anak kecil dalam pangkuannya. Beberapa orang lelaki berjaga-jaga. Seluruh wanita dan anak-anak berkumpul dan dilindungi dalam sebuah lingkaran besar.

“Meira tak disini Keef” ujar istri kepala desa terlihat cemas. Aku menelan ludah.

Gadis itu biasa menyelinap ke sungai. Segera aku kembali berlari ke arah sungai tempat Meira biasa duduk memandang entah apa. Sayup-sayup aku mendengar suara teriakan. Itu Meira. Dan aku begitu mengenal suara itu.

Aku mengutuki langkahku yang terasa lambat. Tiap detik akan berharga sebuah nyawa dari gadis yang aku cintai. Anak panah sudah berada di busurku, siap ditembakkan kapan saja.

Meira terlihat tak sadarkan diri di atas tubuh serigala hitam itu. Darah menetes dari bahunya, membuatku ingin segera mencabik-cabik monster itu. Si srigala tak ambil pusing dengan kehadiranku. Dia mengeratkan gigitannya pada salendang yang Meira gunakan, seolah memastikan agar gadis itu tak jatuh. Aku menembakkan sebuah anak panah. Meleset. Serigala hitam itu gesit dan cepat. Dalam kedipan mata dia melompat melewati lebar sungai. Satu anak panahku tertancap di kaki depannya. Tapi dia terus berlari, dan aku terduduk jatuh.

Aku gagal.

episode ketiga baca di sini!

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: