HomePojok MadrasahTuan Guru Bajang di Masjid Jami’ Parabek

Tuan Guru Bajang di Masjid Jami’ Parabek

Pojok Madrasah 0 1 likes 74 views share

Ada yang berbeda dengan Subuh di Masjid Jami’ Parabek hari itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan kehadiran Tuan Guru Banjang (TGB) Dr. H. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA. Beliau adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat yang juga Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Indonesia (OIAAI). Pagi itu, ia memakai kemeja berwarna merah, jas, sarung dan batu akik.

Bagi saya, Tuan Guru Bajang adalah fenomena. Beliau seperti pengejawantahan paradigma simbiotik antara seorang politisi (negarawan) dan Ulama (agamawan). Ya, selain sebagai Politisi, beliau juga seorang ulama yang memperoleh gelar doktor dalam bidang tafsir di Universitas Al-Azhar, Mesir. Tidak banyak kita temukan orang seperti beliau di Indonesia. Maka dari itu, tidaklah afdhal jika saya melewatkan kesempatan untuk bertemu apalagi ber-swafoto dengan beliau.

Setelah shalat Subuh berjamaah yang langsung diimami oleh Tuan Guru Bajang, jamaah dihadirkan dengan tausiyah beliau. Di dalam tausiyahnya, beliau memberikan motivasi tentang kaidah-kaidah kehidupan yang diajarkan oleh Allah kepada Musa di dalam surat Thaha ayat 42:

اذْهَبْ أَنتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي

Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku

Ayat yang pendek ini, menurut TGB ternyata mengandung motivasi atau filosofi hidup yang amat besar. Bukti bahwa Allah mencintai umatnya. Filosofi hidup / kaidah kehidupan yang diajarkan Allah kepada Musa tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, Allah memerintahkan Musa dengan kata Idzhab: artinya pergilah atau bergeraklah. Dakwah itu bukan berarti berdiam diri. Membangun bangsa bukan berarti berleha-leha.  Tetapi idzhab ada makna bergerak. Bergerak, berusaha, belajar, bersilaturrahim, mencari rezeki, mencari ilmu, membangun jaringan-jaringan persaudaraan, berusaha untuk meningkatkan kualitas diri kita tidak hanya kaki bergerak tetapi juga hati kita. Akal pikiran juga terus mencari hal-hal terbaik.

Disampaikan juga bahwa Imam Syafi’i pernah berucap: “Pergilah! Carilah ilmu, carilah rezki, jangan berdiam diri di satu tempat! Kita akan meninggalkan keluarga, tetapi kita akan menemukan ganti dalam arti ada hal-hal lain yang Allah siapkan untuk itu. Berlelah-lelahlah, karena nikmat kehidupan itu akan lahir dari keringat yang kita keluarkan”. Menurut TGB, ini adalah filosofi pertama dalam kehidupan, senantiasa bergerak.

Baca juga:  Surau Parabek, Literasi, dan Intelektualitas Kita?

Kedua, Anta wa akhaka: Ayat ini memberikan perintah kepada Musa dan menjadi pelajaran bagi manusia selanjutnya, “Bergeraklah engkau! pergilah berdakwah tetapi tidak sendirian. Pergilah bersama saudaramu.”

Filosofi hidup kedua yang diajarkan oleh kalimat ini adalah untuk senantiasa membangun kebersamaan. Kita hidup di dunia tidak bisa sendiri. Kita tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita kecuali dibantu oleh orang lain. Untuk mandi kita butuh sabun, sabun dibuat oleh orang lain. Bahkan sesuatu yang kita tanam di halaman kita tetap tidak bisa sepenuhnya kita penuhi tanpa bantuan orang lain, bibitnya, pupuknya, dan sebagainya. Begitu juga dengan dakwah, dakwah butuh kebersamaan. Membangun Negara butuh kebersamaan.

Ketiga, Bi ayaati artinya harus ada pedoman. Tidak boleh sembarang berdakwah saja. Pedoman itu adalah tuntunan agama. Seperti filosofi hidup orang Minangkabau, Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah. Ini adat bukan sembarang adat, ini adat yang bersandi syara’. Syara’ bukan sembarang syara’, syara’ yang kokoh denga kitabullah. Jadi filosofi hidup orang Minangkabau itu adalah benar-benar sesuai dengan tuntunan Islam, sesuai dengan apa yang diperintah di dalam al-Quran.

Maka menurut beliau, filosofi yang ketiga di dalam kehidupan adalah agar senantiasa tidak keluar dari pedoman yang digariskan oleh Allah.

Keempat, Wa la Taniya. Jangan kendor. Hidup ini perjuangan, maka jangan kendor di dalam perjuangan. Beliau berpesan kepada santri Ponpes Sumatera Thawlaib Parabek yang hadir pada subuh berjamaah itu, bahwa sekarang Anda sedang dalam perjuangan. Perjuangan yang sangat besar, yaitu perjuangan untuk menuntut ilmu pengetahuan, pengetahuan yang membedakan yang baik untuk diikuti dan yang buruk untuk dijauhi. Maka dalam proses untuk mengisi jiwa dengan ilmu, mengasah jiwa hingga terhiasi dengan ilmu yang baik itu perlu kesabaran.

Baca juga:  Surau Parabek, Literasi, dan Intelektualitas Kita?

Di dalam dunia pesantren diajarkan bahwa akhlak lebih utama sebelum ilmu, oleh karena itu di pesantren juga diajarkan adab. Di pesantren kita tidak akan menemukan tragedi murid yang membunuh gurunya seperti yang terjadi di Madura.

Maka selama menuntut ilmu bersungguh-sungguhlah, apa yang kita terima pada masa tua adalah apa yang kita tanam pada masa muda. Kalau yang ditanam itu bibit unggul, Isnya Allah hasilnya juga baik. Tapi kalau yang ditanam itu sembarangan, maka yang diperoleh di masa tua juga sembarangan.

Bisa kita bayangkan, jika orang-orang tua kita terdahulu kendor dalam perjuangan, jika ulama-ulama seperti Tuanku Imam Bonjol, Diponegoro, Pattimura, Sultan-sultan tidak mempunyai keteguhan hati, maka tidak akan lahir Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi Indonesia adalah buah dari kesabaran.

Namanya kehidupan tentu memiliki pasang surut. Para ulama menyebutkan bahwa pasang surut kehidupan persis seperti pasang surut air yang ada di samudera. Seperti itu kehidupan. Rezeki kita kadang-kadang lebih dari yang kita butuhkan, tapi kadang-kadang juga rasanya agak kurang dari yang kita butuhkan. Kesehatan kadang-kadang berganti dengan sakit, rasa hati tidak selalu senang, kadang kadang susah dan gelisah. Pada saat susah dan gelisah itu, harus ada yang tetap kita jaga dalam kehidupan ini, yaitu Iman dan islam.

Kelima, Dzikri, dengan mengingat Allah. Dalam menjalani kehidupan jangan lupa, jangan lalai mengingat Allah Swt.

Inilah lima filosofi hidup yang disampaikan oleh Tuan Guru Bajang yang bersumber dari Al-Quran. Hal ini sangat berguna bagi kita dalam menjalankan kehidupan, memberikan motivasi untuk terus bergerak, membangun silaturrahim, memperkuat jaringan-jaringan, tidak pernah semangat dalam berikhtiar. Namun di atas itu semua, tidak lupa untuk senantiasa mengingat Allah dan tidak keluar dari pedoman yang digariskan oleh Allah

Pada akhirnya, subuh itu semoga menjadi subuh yang berkah, subuh yang menghadirkan gelora semangat baru.

 Wallahu musta’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *