Tuanku, Sjech, Buya, dan Ustadz

Empat istilah ini di Minangkabau biasa digunakan sebagai sebutan untuk alim ulama. Keempat istilah tersebut populer sesuai dg zamannya masing-masing. Pada zaman awal kebangkitan Islam di Minangkabau, orang alim dikenal dengan nama Tuanku. Pada masa ini kita kenal nama-nama seperti Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Renceh, dan Tuanku Tambusai.

Sepeninggal mereka istilah tuanku pun, mulai hilang seakan dibawa oleh pemiliknya. Hingga, muncullah terminologi baru bagi ahli agama yakni Sjech. Itu sebabnya kemudian kita kenal nama-nama beken seperti Sjech Muhammad Djamil Djambek, Sjech Sulaiman al-Rasuli, Sjech Ibrahim Musa, dan Sjech Muhammad Djamil Djaho.

Setelah orang-orang alim ini pun wafat, sebutan Sjech untuk ulama mulai hilang, hilang dibawa oleh orang-orang yang menyandangnya. Sebagaimana lazimnya sejarah yang terus berjalan dan berganti, muncul pula kemudian istilah baru, yakni Buya. Dari sini kemudian kita kenal nama-nama seperti Buya Datuak Palimo Kayo, Buya Zaz, dan Buya Mawardi Muhammad.

Sekali aia gadang, sakali tapian berubah, Buya pergi, digantikan oleh ustadz. Hingga kita mengenal nama-nama seperti ustadz Abdul Munir Djalal dan Ustadz Abdul Ghafar di Parabek.

Mungkin karena istilah itu merupakan konvensi atau sesuatu kesepakatan yang lahir begitu saja dalam masyarakat, ia tidak bisa dipaksakan untuk tetap hidup dan berlaku. Begitu juga, meskipun batas antara yang satu dengan yang lain tidak begitu tegas, panggilan untuk alim ulama begitu saja tumbuh dan berganti secara alamiah sesuai dengan zamannya.
Wallahu a’lam.

=============
Tulisan ringan, sambil menikmati kopi panas yang dibuekan urang rumah.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: