Ujian Allah Swt.

Kita yakin dan percaya bahwa Allah itu maha baik, tiada satupun yang sanggup menandingi kebaikan Allah SWT di atas permukaan bumi ini. Lalu pertanyaannya, kenapa Allah tidak masukkan saja seluruh manusia itu ke dalam surga dengan kebaikannya itu? Bukankah itu adalah sesuatu yang sangat mudah bagi Allah. Pada penciptaan langit dan bumi yang maha dahsyat saja, Allah hanya berkata kun fayakun, jadilah maka jadilah ia. Tentu memasukkan manusia semenjak nabi Adam sampai manusia yang terakhir hidup nanti adalah juga sesuatu yang sangat mudah bagi Allah. Namun itu semua tidak Allah lakukan. Kenapa itu tidak Allah lakukan. Inilah yang menjadi renungan kita pada kesempakatan kali ini.

Mari kita lihat contoh yang kedua, kemudian bandingkan dengan kondisi di atas. Kita yakin dan percaya bahwa guru itu adalah orang yang sangat baik. Lalu pertanyaannya, Kenapa guru tidak meluluskan saja seluruh peserta didiknya itu. Bukankah itu sesuatu yang sangat mudah bagi guru lakukan. Tetapi, sekali lagi hal yang demikian tidak guru lakukan. Kenapa itu tidak guru lakukan.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat firman Allah SWT dalam Surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya : Allah Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Dulu banyak pakar berkata bahwa hidup itu adalah sesuatu yang menjadikan sesuatu yang lain merasa, tahu atau bergerak. Jadi sesuatu yang tidak merasa, tahu dan tidak bergerak adalah mati. Kita tentu sepakat bahwa benda-benda yang tidak memenuhi syarat di atas adalah sesuatu yang tidak hidup sebab dia tidak merasa, hidup dan tidak tahu apa-apa. Demikian juga halnya manusia. Jika seseorang itu berkata ia hidup, namun dia tidak tahu apa-apa, dia tidak bergerak sebagaimana lazimnya manusia dan tidak memiliki rasa. Maka orang yang demikian sama halnya dengan benda mati sebagiamana yang kita jelaskan tadi. Itu adalah pendapat pertama.

Pendapat yang lain menyebutkan bahwa hidup itu berarti sesuatu yang berfungsi sesuai dengan tujuan dia diciptakan. Jika Allah menciptakan manusia, tentu pertanyaannya adalah mengapa Allah menciptakan manusia, apa fungsi yang diharapkan dari manusia itu sehingga mereka diciptakan. Tentu jawaban manusia itu diciptakan adalah untuk menjadi hamba Allah dan untuk menjadi khalifah di permukaan bumi. Oleh sebab itu,  kalau sekiranya masih ada diantara manusia yang lupa dengan untuk apa ia diciptakan, sementara waktu terus berjalan tanpa berhenti seditikpun, maka ini adalah ancaman serius bagi kehidupan mendatang. Kalau sekiranya hamba tersebut tidak mampu menjadi khalifah atau tidak mampu menjadi hamba Allah di atas permukaan bumi ini, maka kita dinilai oleh Allah SWT tidak hidup.

Kemudian hal lain yang ditekankan Allah dalam  ayat ini bahwa jangan menduga mati itu adalah suatu ketiadaan. Jangan pernah menduga bahwa orang  yang mati itu pada hakikatnya sudah tidak ada,  dia sejatinya tidak ada dipermukaan bumi ini, tetapi dia ada di alam yang lain. Penekanan terhadap mati tidak lain dimaksud untuk mengunggah hati dan pikiran kita bahwa dengan mengingat mati pasti akan mengingatkan kita kepada Allah SWT. Sang pencipta yang segala sesuatu berada di genggaman-Nya.

Kemudian selanjutnya ayat ini juga menerangkan bahwa mati dan hidup itu adalah suatu ujian yang mesti dilalui oleh seorang hamba. Ujian merupakan suatu alat untuk melihat besar kecilnya, sedikit banyaknya kemampuan seseorang setelah menjalani proses belajar. Begitu halnya dengan ujian Allah. Ujian Allah itu adakalanya ada yang menyenangkan dan ada pula yang menyusahkan kita. Ketika Allah titipkan kekayaan, maka kekayaan itu pada hakikatnya adalah ujian Allah untuk kita. Ketika Allah titipkan kemiskinan, maka kemiskinan itu pada hakikatnya adalah ujian Allah untuk. Ketika Allah titipkan kenikmatan yang tiada sanggup kita bayangkan, maka ingat, itu juga ujian Allah. Oleh sebab itu al-Quran mengingatkan:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16)

Artinya : Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

Sebagian kita, barangkali pernah ada yang berpikir atau terlanjur berkata bahwa ketika Allah memberinya nikmat yang banyak mengindikasikan bahwa Tuhan senang kepadanya. Sementara itu ada juga orang yang berpikit bahwa kalau ia selalu mendapat kesulitan selama hidupnya maka ia berkata bahwa Tuhan menyiksanya. Bukan demikian, kesenangan dan kesusahan bukanlah tanda cinta Allah kepada manusia, hal yang demikian adalah ujian. Ujian untuk melihat siapa diantara kita yang paling baik amalnya. Kalau seseorang hamba mendapat kesulitan melalui ujian itu, Allah ingin lihat seberapa  besar tingkat kesabarannya. Begitupun kalau ia dapat nikmat Allah mau lihat, apakah ia adalah termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur atau tidak.

Sungguh banyak diantara kita yang berkata bahwa ujian Allah itu terlalu menyiksa batin kita. Tetapi kita harus ingat melalui ujian juga fungsi akal kita berperan maksimal. Lalu apa gunanya akal kita jika bukan untuk dilatih untuk menghadapi ujian-ujianl yang kecil. Kita berharap ketika ujian-ujian kecil telah mampu kita lewati, ujian besar hanya butuh penyesuaian saja.

Namun sebaliknya, jika kita belum mampu melewati ujian-uijan kecil. Maka inilah kesempatan bagi kita untuk melatih diri dengan menjadikan segala sesuatu yang menimpa diri kita, seperti rasa sedih, senang, suka, duka, miskin, kaya dan lainnya adalah ujian Allah kepada hambanya.  Sebagai orang yang benar yakin kepada Allah SWT, tidak boleh takut atau khawatir jika ujian itu datang. Jadikan ujian itu sebagai ladang amal bagi kita untuk lebih dekat kepada Allah SWT, menambah keyakinan kepada Allah.

Kemudian, sebagai seorang yang beriman tentunya kita juga dilarang berkata bahwa kita telah benar-benar beriman kepada Allah, sementara kita belum pernah melalui ujian Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Ankabut 2-3

احسب الناس ان يتركوا ان يقولوا ءامنا وهم لا يفتنون – ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكذبين

Artinya : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta

Mari kita kembali kepada pembahasan awal tadi. Begitu mudahnya bagi Allah untuk memasukkan seluruh hambanya ke dalam surga. Tetapi itu tidak Allah lakukan. Karena pada dasarnya Allah ingin melihat amal terbaik dari pada hamba yang telah ia beri kehidupan kepadanya, dan yang telah ia beri nikmat sepanjang hari. Amal terbaik manusia itu tentu tidak lahir begitu saja, sebab itu butuh proses dan latihan. Sebab amal itu sangat dipengaruhi oleh iman. Amal akan baik bilamana keimanan kuat, amal akan buruk bilamana iman pada waktu lemah. Oleh sebab itu, Allah menggunakan ujian itu sebagai sarana untuk melihat siapa diantara hambanya yang betul-betul terpelihara iman dan keyakinannya kepada  Allah SWT.

Kemudian bilamana seorang guru, meluluskan seluruh muridnya tanpa memberikan ujian terlebih dahulu. Maka ini akan dapat menimbulkan bahaya yang luar biasa. Bahayanya seperti apa. Mari kita lihat yang terjadi seandainya seorang  dosen atau pengajar yang bergerak dalam bidang kesehatan, kemudian meluluskan begitu saja seluruh mahasiswa kedokterarannya tanpa ia beri ujian terlebih dahulu, maka ini akan dapat menimbulkan bahaya yang luar biasa di tengah masyarakat nanti. Dokter yang sejatinya bertugas untuk membantu kesembuhan pasien melalui obat yang sesuai dengan penyakit pasiennya, karena ia dahulu tidak diuji, maka si pasien akan dapat kehilangan kesembuhannya, bahkan nyawanya. Alangkah berbahayanya jika seandainya itu terjadi. Tugas seorang dokter yang sejatinya memberikan kesembuhan tetapi berubah menjadi mesin pembunuh yang mengancam nyawa manusia.

Kemudian di dalam sebuah hadits qudsi  Rasulullah juga bersabda:  Allah SWT berfirman kepada malaikat-Nya: “Pergilah kepada hambaku, lalu timpakanlah bermacam-macam ujian kepadanya karena aku hendak mendengar suaranya.”

Demikian perintah Allah kepada para malaikat. Allah perintahkan mereka untuk membawa sejumlah lembaran ujian yang mesti dilalui manusia. Bila seorang hamba lulus dari ujian tersebut, maka meningkatlah derajat hamba itu disisi Allah SWT. Namun bila seorang hamba gagal dalam ujian tersebut, maka itu tidak lain adalah suatu keberhasilan yang masih tertunda, yaitu tertundanya dekat kepada Allah SWT.  Oleh sebab itu, selamat menempuh ujian kepada kita semua. Mari kita buktikan bahwa ujian Allah itu yang akan memuliakan kita dihadapan Allah SWT.

Wallahu a’lam …[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: