Ulama, Kekerasan, dan Ekonomi

 

Islam terlahir sebagai rahmatal lil’alamin; agama yang mempunyai misi utama memperbaiki moral umat manusia. Penegasan itu disampaikan oleh Rasulullah bahwa sesungguhnya ia diutus untuk memperbaiki akhlak umat manusia . Di awal Islam di kembangkan, Qurays merupakan masyarakat dengan mentalitas yang bobrok. Mereka berperilaku hedonis, kapitalistik, dan sangat jauh dari humanisme.

Derajat manusia terbagi berdasarkan besarnya kapital yang mereka miliki. Kaum perempuan dalam sejarahnya hanya memiliki derajat yang begitu hina dan tidak berharga sama sekali. Akal-mengakali adalah ciri yang tidak terlepas dari suku ini yang mampu menjaga kepentingannya di antara hegemoni kekuasaan yang mengapit wilayah mereka.

Sejarah itu menikam jejak, begitu kata orang-orang bijak. Hari ini kita menyaksikan bagaimana pengulangan sejarah dalam substansi yang sama dengan konteks kekinian. Perbudakan memang tidak ada lagi, namun perendahan nilai dan harkat manusia itu terus saja berlansung.

Penyebaran kata-kata kebencian atau hate speech yang kadang lebih bernuansa penyebaran fitnah tidaklah sesuatu yang asing dan janggal lagi. Begitu juga terhadap kekerasan fisik dan pelecehan terhadap orang yang lemah. Kaum perempuan masih berada di garis terdepan untuk di eksploitasi, baik untuk kepentingan komersil, seks, dan tenaga kerja yang murah. Penghisapan yang terjadi seakan sudah menjadi bahagian yang sistemik yang sangat jauh dari jangkauan proteksi negara.

Akar persoalan yang sesungguhnya dari persoalan manusia itu adalah penguasaan alat-alat produksi dan distribusi. Manusia butuh untuk bertahan hidup dan berkembang. Seiring dengan kemajuan zaman, kebutuhan itu terus berkembang, dan akhirnya sangat memerlukan suport dari sumber daya. Keterbatasan hegemonik.

Kebangkitan dunia Barat dari keterpurukannya setelah zaman kegelapan yang dikenal dengan renaisance sangat mempengaruhi tatanan dunia saat ini. Termasuk Islam itu sendiri. Kemunduran dunia Islam, dan kemajuan dunia barat memberikan persoalan berat yang akhirnya berhasil mencerai-beraikan Islam. Islam dalam catatan sejarah adalah merupakan musuh utama dari Barat yang pernah terluka akibat dendam sejarah dan itupun terus berlansung diakui atau tidak sampai saat ini.

Untuk konteks Indonesia, para penjajah Barat yang ingin menguasai tanah air yang subur mendapatkan perlawanan terbesar yang selalu dipelopori oleh para Ulama. Para Ulama saat itu tidak hanya menisbahkan dirinya hanya terhadap persoalan kitab semata. Para Ulama juga merupakan bahagian yang terpenting dalam mengatur urusan muamalah atau kemasyaratan.

Ulama yang memiliki pengaruh yang mengakar menjadi persoalan tersendiri bagi mereka yang ingin menguasai bumi Nusantara ini. Sebutlah perlawanan di Jawa, Aceh, Minangkabau, Kalimantan, Sulawesi dan berbagai daerah lainnya pada umunya mereka yang berada digaris terdepan dalam  melakukan perlawanan itu adalah para Ulama.

Perlawanan-perlawanan itu dapat dipatahkan oleh bangsa penjajah dalam waktu yang cukup panjang. Ketertinggalan dari teknologi peralatan militer merupakan salah satu masalah terbesar bagi pribumi. Penguasaan wilayah yang dilakukan oleh bangsa penjajah akhirnya sedikit demi sedikit berhasil memarginalkan fungsi dan peran Ulama sebagai pemimpin yang berpengaruh.

Politik devide et impera  menjadi senjata yang ampuh. Perlahan tapi pasti sekularisme yang dilancarkan telah memberikan dinamika baru dalam melumpuhkan Islam itu sendiri. Munculnya berbagai pemikiran telah mendorong perkembangan Islam dengan berbagi ciri yang dipengaruhi oleh sumber-sumber pemikiran Islam yang bukan hanya lagi dari timur tengah akan tetapi juga dari Barat.

Para Ulama dari abad akhir abad 18 dan abad 19 menghabiskan energinya untuk berdebat dalam pemikiran yang sebetulnya tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kepentingan umat. Perang pemikiran yang berlansung dari berpuluh-puluh tahun itu diakui atau tidak telah menyebabkan luputnya para Ulama untuk mengkaji perkembangan scince dan tekhnologi serta kemajuan ekonomi.

Keterlambatan itu juga terus mewarnai dinamika kehidupan beragama. Kesadaran akan bahaya kapitalisme dan liberalisme baru muncul belakangan. Sebelum itu yang selalu disebutkan menjadi ancaman itu adalah westernisasi yang melakukan penetrasi budaya terhadap budaya asli bangsa yang sangat jauh dari nilai-nilai adat dan agama.

Keterlambatan tersebut juga menyebabkan ketertinggalan untuk membangun sistem ekonomi syari’ah. Sistem ekonomi pasar yang telah berkembang telah menghanyutkan sebagian besar ummat Islam terjebak dalam sistem itu yang sanagat berdampak besar terhadap pemerataan pendapatan dan eksploitasi kaum buruh.

Hal lain akibat dari itu semua mengakibatkan terjadinya pemisahan yang semakin tajam antara Islam sebagai pandangan hidup yang terkesan tidak bisa memberikan solusi terhadap persoalan yang sedang berkembang di bandingkan dengan ideologi-ideologi yang tumbuh. Distorsi tersebut menjadikan urusan Islam hanyalah urusan akhirat semata yang terus mencengkram dan tertanam dalam kalangan ummat. Hal tersebut diperparah lagi dengan semakin pluralisnya masyarakat  dan berdampak terhadap benturan peradaban atau benturan persepsi.

Kini, disinilah peran pentingnya Ulama untuk kembali berada di garis terdepan untuk menegaskan bahwa Islam sebagai agama dan pandangan hidup tidak saja relevan tetapi juga urgen. Islam adalah agama yang kaya dengan konsep-konsep, seperti konsep tentang Tuhan, manusia, kehidupan, jiwa dan raga, alam semesta, etika dan lain-lain yang kokoh sehingga berkembang menjadi peradaban.

Bangunan konsep Islam sebagai agama dan peradaban ini mencerminkan sebuah pandangan hidup yang memiliki struktur konseptualnya sendiri yang eksklusif dan berbeda dari peradaban lain. Sudah saatnya para Ulama untuk meninggalkan perdebatan-perdebatan yang sebetulnya tidak terlalu penting itu. Peran yang terpenting adalah menjadikan Islam itu sebagai pandangan hidup dan mengerakkan umat ke arah itu. Wallahu ‘alam.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: