Ulama Klasik Sinaran Zamannya, Benarkah?

Alkindi, seorang yang digelari filosof Arab didalam salah satu tulisannya, surat  yang teruntuk Raja Mu’tashim Billah, mengungkapkan:

“… Sepantasnya kita tidak meremehkan atau mencela  siapapun yang telah menjadi sebab dari manfaat yang kita terima walaupun itu kecil. Terlebih lagi jika ia “orang orang besar” yang telah membantu kita dalam menggapai kebenaran walaupun mereka masih belum sampai pada kebenaran…”

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah tulisan yang menarik dari Rahmat Fauzi (baca di sini). Secara garis besar tulisan tersebut berisi opini yang menggiring pembacanya untuk pembaharuan dalam interpretasi teks keagamaan dengan sudut pandang baru yang dinamis dan kontekstual.

Saya akan mengajukan beberapa catatan untuk menanggapi tulisan tersebut. Pertama, penulis artikel tersebut tidak berimbang dalam menyusun argumennya. Yang saya maksud, ia hanya mengemukakan pendapat kaum liberal tanpa mempertimbangkan pendapat kaum moderat.

Kedua, ia menyebut bahwa para ulama atau agamawan terdahulu hanyalah sinaran zamannya. Pernyataan ini seolah menuduhkan bahwa para ulama hanya laku pada masanya, dan tidak lagi mada masa berikutnya. Ia seolah menyerukan bahwa kita tidak lagi memerlukan peran mereka dalam perkembangan pengetahuan saat ini.

Mari kita pelajari lebih lanjut pernyataan yang dikemukakannya. Pada awal kebangkitan filsafat modern Eropa, Francis Bacon secara tegas menolak logika (mantiq) kuno, organon aristoteles, untuk merumuskan logika terbaru versinya yang dikenal dengan novum organon. Akan tetapi, bagaimanapun juga, Francis Bacon tidak pernah terlepas sama sekali dari pengaruh organon aristoteles; ia tetap berpijak pada organon Aristoteles untuk merumuskan novum organon.

Artinya, melepaskan diri dari sejarah masa lalu adalah kemustahilan. Bagaimanapun kerasnya keinginan kita untuk memisahkan diri dari ulama sebelumnya, pada akhirnya itu hanyalah angan-angan utopis. Sudah menjadi hokum alam bahwa pendatang baru mengambil istifadah dari pendahulunya dan akan selalu terpengaruh dengannya.

Akan tetapi, penting juga untuk disampaikan di sini, bahwa kita juga tidak boleh mengkultuskan pendapat para pendahulu. Hal ini justru akan bermuara pada ‘the idols of theatre’, sebagaimana disebut oleh Francis Bacon. Namun haruskah kita membuang apa yang telah diwariskan oleh pendahulu kita?

Patut disadari,kita memang diharuskan  untuk mengkritisi , merevisi serta memodifikasi  tradisi. Akan tetapi, pada saat yang sama, kita juga beperan sebagai jembatan dan penjaga warisan tersebut. Semangat objektifitas seorang pelajar akan menghargai apa yang telah ditorehkan ilmuwan atau ulama terdahulu. Ia akan memeriksanya dengan teliti; bila memang ada yang salah maka akan dikritisi dan  bila ada yang benar maka akan diakui, tanpa mencederai norma dan adab. Sekiranya itulah yang mungkin disampaikan Alkindi di sepotong paragraf yang saya nukilkan diawal tulisan.

Catatan ketiga saya berkenaan dengan paragraf penutup dari artikel tersebut:

Saya melihat, adanya kesalahan-kesalahan fundamental tentang image atau konsep ilmu yang telah dielaborasi oleh kaum (modern) ortodoks; sebuah konsep ilmu yang dengan membabi-buta mempertahankan dogma-dogma yang diwarisi dari mazhab-mazhab klasik. Mereka tidak berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah. Mereka justru membakukan sejarah.

Di sini kita perlu memperjelas, siapa sebenarnya yang di sebut dengan “kaum (modern) ortodoks”? Apakah isitilah ini ditujukan bagi ilmuwan/agamawan yang berpegang pada konsep mazhab saat ini? Terutama untuk kalimat “mereka tidak berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah, mereka justru membakukan sejarah”, ia perlu memberikan penjabaran dan bukti.

Saya mencurigai over-generalisasi lah yang terjadi di sini. Tidak semua ulama yang berpegang teguh pada konsep mazhab membabi buta mempertahankan dogma-dogma yang diwarisi dari mazhab–mazhab klasik. Bila ditelusuri lebih jauh, kita mendapati adanya upaya sebagian besar ulama bermazhab dalam mendekatkan konsep bermazhab sesuai dengan kondisi zamannya. Sebab mazhab bukanlah hukum halal-haram semata. Ia adalah metode serta kurikulum dalam pemecahan masalah yang terjadi.

Inilah yang kita jumpai dalam diskursus Ushul Fiqh dan Qawa’id al-Fiqhiyyah. Kedua hal ini merupakan metode yang menjadi pegangan untuk menjawab persoalan-persoalan kontemporer dengan tetap memperhatikan ruh maqasid syariah tanpa abai terhadap realitas sosial. Di sinilah kita mendapat sebuah kaidah yang bagus, “ fatwa mungkin saja bisa berubah dengan perubahan zaman serta keadaan”.

Pada akhirnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan mengajak kita untuk mencatat kehadiran para ulama yang peduli dengan realitas sosialnya seperti Syeikh Yusuf Qaradhawi, Syeikh Ali Jumah, Syeikh Mahmud Syaltut , Syeikh Jadal Haq, dsb. Sekiranya penulis mempertimbangkan kenyataan ini, mungkin ia akan menemukan kesimpulan yang berbeda. Wallahu a’alam

Wahyudi Rahman

Wahyudi Rahman adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2011. Saat ini adalah mahasiswa S1 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir jurusan Aqidah Filsafat.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: