Unsur-unsur Serapan dalam Bahasa Al-Qur`an

Salah satu persoalan yang diperdebatkan oleh para ahli bahasa dan sastra Arab serta mufasir al-Qur’an adalah apakah kosakata serapan dari bahasa asing dipakai dalam al-Qur’an atau tidak? Dengan kata lain, apakah semua kata yang digunakan dalam al-Qur’an adalah Arab asli atau ada juga kata-kata yang telah melalui proses pengaraban? Secara istilah, kata-kata yang diserap oleh bahasa Arab dari bahasa-bahasa lain disebut dengan mu’arrob, dan melalui proses perpindahan serta perubahan yang disebut dengan ta’rib atau pengaraban. Biasanya, kata-kata asing satu bahasa masuk ke bahasa lain disebabkan oleh faktor-faktor berikut: kedekatan letak geografis, hubungan perdagangan, imigrasi, politik, kultur, ekonomi, industri dan lain-lain. Intinya, faktor-faktor ini adalah faktor yang berakar dari tuntutan-tuntutan material dan spiritual manusia.[1]

Itulah sebabnya mengapa terjadi proses bargaining kata. Sejalan dengan perkembangan peradaban, budaya pun melalui waktu yang cukup panjang dalam sejarah manusia dan proses bargaining meningkat luar biasa sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada lagi bahasa hidup dunia yang masih murni. Tidak ada pula bangsa beradab yang berani mengaku bahwa bahasa mereka bersih dari unsur-unsur asing serapan atau pinjaman dari bangsa-bangsa lain.

Bahasa Arab juga tidak terhindar dari proses bargaining kata. Karena bangsa Arab pra Islam sendiri melakukan interaksi dengan masyarakat diluar Arab, seperti Persi, Akhbas, Romawi, Suryani, Nabti, dan sebagainya. Salah satu bentuk hubungan politik dan perdagangan antara Arab dengan jirannya, yaitu hubungan yang terjalin antara Arab dengan ‘Aramiyyin. Kondisi ini tentu akan berdampak pada saling keterpengaruhan antar sesama bangsa yang saling berinteraksi tersebut, terutama keterpengaruhan dalam bidang bahasa.[2] Namun, yang lebih menjadi persoalan adalah apakah  al-Qur’an yang diwahyukan kepada Muhammad Rasulullah saw dengan bahasa Arab fasih yang populer di kawasan Hijaz pada waktu itu memakai kata-kata asing juga atau tidak?

Pembahasan ini cenderung diabaikan oleh Ulama Ulumul Quran setelah Suyuthi. Sedikit sekali Ulama yang memasukkan kajian bahasa asing ini dalam kajian Ulumul Quran, sedangkan para orientalis seperti Abraham Geiger, Theodore Noeldeke, Arthur Jeffery, Ignaz Goldziher dan lain-lain, menjadikan pembahasan ini sebagai pintu gerbang menggugat otentisitas Al-Qur’an  .

Menurut etimologi, Al-ta‘rib dan al-mu‘arrab berturut-turut merupakan bentuk mashdar dan maf‘ul bih hasil derivasi kata dasar ‘arraba-yu‘arribu (عرّب-يعرّب) yang memiliki beberapa arti: Mengajarkan bahasa Arab, mencela perbuatan dan perkataan seseorang lalu menegurnya, melukai binatang di salah satu bagian tubuhnya untuk diberi tanda, menyerap bahasa asing ke dalam bahasa Arab[3]. Dr. Karim Sayyid Ghonim mengatakan bahwa ia adalah proses menyesuaikan kata asing dengan kaidah bahasa Arab. Sedangkan kata-kata yang diarabkan (al kalimaat al mu`arrobah) kata-kata yang diambil dari bahasa asing. Maka proses pengaraban (at ta`riib) adalah proses pengambilan bahasa Arab terhadap bahasa asing.[4]

Secara etimologis, al-ta‘rib telah terdefinisikan sebagai proses penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Arab. Sedangkan, kata serapan  hasil proses al-ta‘rib disebut al-mu‘arrab. Adapun al-ta‘rib menurut terminologi, al-Jawaliqy mendefiniskan al-Mu‘arrab sebagai kata serapan yang terdapat di dalam al-Qur’an, Hadis, Atsar, syair, dan nash klasik.[5]

Ada beberapa faktor yang mendorong bangsa Arab menyerap bahasa lain, di antaranya sebagai berikut:

  1. Bangsa Arab secara terpaksa menggunakan kata dari bahasa asing bagi benda-benda yang hanya dimiliki oleh bangsa non-Arab. Misalnya beberapa nama perabotan rumah tangga seperti: القصعة / al-qash‘ah (mangkuk), السكرجة / al-sukurrujah (piring), nama pakaian seperti: الديباج / al-diibaaj (sutera tebal), dan nama perhiasan الياقوت  / al-yaaquut (batu mulia) yang semuanya diserap dari bahasa Persia.
  2. Ketertarikan bangsa Arab untuk lebih memilih menggunakan kata dari bahasa asing daripada bahasanya sendiri, baik karena lebih mudah diucapkan maupun sekedar menambah gengsi.
  3. Hubungan perdagangan, politik dan budaya dengan bangsa non-Arab yang mau tidak mau mempengaruhi penggunaan bahasa asing dalam berinteraksi.[6]

 

Kata-kata Serapan dalam Al-Qur’an  

Sebagai ulama yang paling concern dengan persoalan muarrab, Jalaluddin As Suyuthi dalam Al-Itqan fie Ulumil Quran dan Al-Muhadzzab Fii Maa Waqa`A Fil Quran Minal Muarrab mengklasifikasikan kata-kata muarrab berdasarkan negeri asal kata-kata tersebut, yaitu: Kata muarrab yang diambil dari bahasa Ethiopia, Persia, Yunani, India, Syiria, Ibrani, Nabatian, Koptik, Negro, Turki dan Barbar.[7] Arthur Jeffery, seorang orientalis dari Universitas Kairo, Mesir menemukan sekitar 275 kata, selain kata nama diri, yang dianggap sebagai kosa kata asing dalam al-Qur’an. Dalam pengantar bukunya The Foreign Vocabulary of the Quran, ia menggambarkan usaha Suyuthi dalam menemukan kata-kata asing dalam Al-Qur’an   tersebut.[8]

Suyuthi juga menyebutkan kata-kata muarrab dalam Al-Qur’an  di dalam kitabnya Al Muhadzab. Beberapa contoh kosakata non Arab yang digunakan oleh al-Qur’an, seperti قِرطَاس dalam surat Al-An’am ayat 7. Menurut sebagian ahli, kata قرطاس (kertas) bukan Arab asli, berasal dari kata “charta” dalam bahasa Yunani sedang dalam bahasa Abyssinia adalah “kartas”. Kata (إبلعى) dalam firman Allah (يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءكِ). Ibnu Hatim dalam tafsirnya, sebagaimana dikutip oleh al-Suyuthi, menyatakan bahwa kata ibli’I Berasal dari bahasa Habsyi. Sementara Ibn Hayyan menyatakan berasal dari bahasa Hindi. Kata (استبرق), Menurut Abu Hatim dan Abu Ubaid, kata tersebut berasal dari bahasa Persi dengan makna ديباج غليظ (sutera tebal). Kata (اسفار), Al-Wasithi dalam al-Irsyad menyatakan kata tersebut berasal dari bahasa Suryani, sementara al-Kirmaniy berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari bahasa  Nabti. Kata asfar, baik dalam bahasa Suryani ataupun Nabti sama-sama berarti al-Kutub (kitab).[9]

Ulama berbeda pendapat tentang ada-tidaknya kata-kata yang diarabkan (al kalimaat al mu`arrobah) di dalam Al Qur`an antara menerima dan menolak. Ada setidaknya 3 pandangan umum tentang kata muarrab dalam Al-Quran. Pertama, Kelompok yang menolak adanya kata-kata muarrab di dalam Al Qur`an, mereka adalah mayoritas ulama besar diantaranya adalah Imam As Syafi`i, Abu Ubaidah, Al Qodhi Abu Bakar, dan Ibnu Faris. Dan pendapat mereka berangkat dari firman Allah Swt. dalam Surat Yusuf ayat 2 dan Asy-Syuara ayat 195:

 

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an  dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”(QS. Yusuf : 2)

 

“Dengan bahasa Arab yang jelas.”(QS. Asy-Syu’ara: 195)

 

 “Dan Jikalau Kami jadikan Al-Qur’an  itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al-Qur’an ) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab?…” (QS. Fushshilat: 44)

 

Mereka menafsirkan ayat terakhir ini, bahwa “Dan seandainya Kami jadikan Al Qur`an dengan bahasa asing di dalamNya, maka niscaya akan berkata kaummu Bani Quraisy:             (لَوْلا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ) yaitu: seandainya dijelaskan bukti-bukti dan ayat-ayat yang ada di dalamnya, niscaya kami mengerti hakikat dan mengetahui apa yang ada didalamnya, (أأعجميّ) apakah Al-Qur’an  ini menggunakan bahasa asing sedangkan Ia diturunkan kepada orang yang berbahasa Arab? Dan Syafi`i menegaskan hal itu kepada orang yang mengingkarinya. Syafi`i mengatakan dalam kitabnya “الرسالة” tidak ada yang mengetahui bahasa selain nabi. [10]

Baca juga:  Selamat Natal tentang Sejarah Indonesia

Menurut Zarkasyi dalam Burhan, pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama. Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa tidak ada di dalam Al-Qur’an   selain Bahasa Arab, karena Allah menjadikannya sebagai mukjizat yang jelas untuk nabi Muhammad Saw, petunjuk yang nyata bagi kebenarannya, menyatukan bangsa Arab bersamanya, menghadirkan keindahan balaghah, fashahah dan syair dengan ayat-ayatnya. Kalau ia mengandung bahasa selain bahasa Arab, maka dia tak punya faedah lagi.[11]

Ulama di zaman sekarang yang berpendapat seperti ini antara lain adalah As-Syeikh Ahmad Syakir, muhaqqiq kitab Al-Mu’arrab minal Kalamil A’jami yang ditulis oleh Al-Jawaliqi. Al-Jawaliqi dalam kitabnya itu cenderung mengatakan keberadaan serapan bahasa non arab dalam Al-Qur’an  , namun dibantah oleh Ahmad Syakir. Ahmad Syakir mengatakan bahwa anggapan adanya lafadz selain arab dalam Al-Qur’an   sebenarnya hanyalah perkiraan saja. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa para ahli bahasa itu pun tidak tahu asal muasal kata-kata itu. Padahal harus diketahui bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang sudah ada sejak zaman dahulu sebelum sejarah ditulis. Jauh sebelum zaman Ibrahim dan Ismail. Sudah ada sebelum masa keberadaan bahasa Kaldaniyah, bahasa Ibrani, bahasa Suryaniyah dan bahasa Persia. Jadi tidak ada istilah bahasa-bahasa yang lebih muda diserap ke dalam bahasa arab. Yang ada sebenarnya lafadz-lafadz itu asli dari bahasa Arab sejak dahulu, kemudian diserap oleh bahasa lain yang lebih muda, lalu datanglah orang-orang kemudian dan beranggapan bahwa lafadz itu serapan dari bahasa lain ke bahasa Arab. Sependapat dengan logika ini Dr. Hasan Dhiyauddin ‘Ithr, di mana beliau menulis dalam makalah yang berjudul “Kesucian Al-Qur’an   dari bahasa ‘ajam (non Arab).”

Pandangan kedua, bahwa ada kata-kata asing dalam Al-Qur’an , dan mereka adalah salafus shalih dari kalangan sahabat dan para tabi`in, diriwayat dari Ibnu Abbas, Mujahid dan Ikrimah bahwa di dalam Al-Qur’an  terdapat kata-kata asing yang diarabkan (arabisasi), seperti:سجّيل، والمشكاة، واليمّ، والطور، وأباريق، واستبرق

Kemudian, mereka menjawab bahwa beberapa kata muarrab dalam Al-Qur’an  tidak menjadikannya keluar dari kearabannya, sebagaimana kata Arab dalam Syair Persia tidak menjadikannya keluar dari kepersiannya. Kemudian mereka juga menjawab alasan kontra tentang firmanNya (أَأَعْجَمِيٌّ وَعربيّ) Secara tafsiran harfiah ayat ini: “Apakah perkataan asing sedangkan pembicara adalah orang Arab?”, berbeda dengan golongan pro, mereka menafsirkan ayat ini dengan meninggalkan kata pertanyaan (harful istifham) sehingga menjadikannya berita dari Allah Swt. tentang perkataan golongan musyrik Quraisy dalam mengingkari Al-Qur’an. Mereka juga mengatakan bahwa, para ahli Nahwu mufakat kata “إبراهيم” hukumnya tidak berubah (mamnu` minas sharf) karena keasingannya.

Di antara ulama zaman sekarang yang berpendapat seperti ini adalah Dr. Ramadhan Abduttawwab dan Muhammad As-Sayyid Ali Al-Balasi. Dr. Ramadhan Abduttawwab telah menuliskan pendapatnya dalam kitab berjudul Fushulun fi Fiqhil Arabiyah. Salah satu ungkapan beliau di dalamnya adalah “merupakan sebuah kesalahan mengingkari adanya unsur serapan bahasa asing di bahasa Arab fusha dan juga di dalam Al-Qur’an  . Muhammad As-Sayyid Ali Al-Balasi dalam kritiknya atas kitab Al-Muhazzab mengatakan bahwa para ulama telah sepakat mengatakan adanya kalimat ajam (non arab) di dalam Al-Qur’an  , yang telah diarabkan oleh bangsa Arab sebelumnya. Sehingga biar bagaimana pun tidak ada perbedaan di antara para ulama itu untuk menggunakan kalimat yang diarabkan. Dan dengan demikian juga tidak ada masalah bila kalimat yang asalnya bukan arab di terdapat di dalam Al-Qur’an  .[12]

Pandangan ketiga mengatakan ada kesamaan bahasa diantara bangsa-bangsa ketika itu, sebagaimana Ibnu Jarir At Thabari sebagaimana yang dikutip oleh Suyuthi di dalam Itqan mengatakan bahwa: kata-kata asing dalam Al-Qur’an  bukanlah asing dalam sebenarnya, namun itu adalah kesamaan bahasa, dimana bangsa Arab, Persia, dan Habasyah berbicara dengan bahasa yang satu. Di lain pihak ia juga meyakini bahwa sebagian dari Al-Qur’an  berbahasa Persia, Nabtiyah, Romawi, dan Habasyah. Sehingga perkataan ulama salaf: “في القرآن من كل لسان” bukan berarti di dalamnya terdapat kata asing yang boleh dinisbatkan ke bahasa lain, tetapi bahwa di dalamnya terdapat kata-kata yang dipakai bangsa Arab yang juga dipakai oleh bangsa Persia, Romawi, Habasyah. Dengan kata lain, kata-kata itu sama-sama dianggap bahasa Arab juga Romawi atau Persia.

Di antara Ulama yang berada di posisi tengah lannya adalah Abu Ubaid Al Qasim bin Salam yang mencoba menjelaskan pendapat gurunya Abu Ubaidah yang kontra dengan adanya kata-kata muarrab di dalam Al-Qur’an . Menurutnya, semua kata-kata Al-Qur’an  adalah Arab termasuk kata-kata muarrab, karena kata-kata asing itu telah mengalami arabisasi dan telah dipakai secara jamak oleh bangsa Arab sebelum turunnya Al-Qur’an .[13]

 

Hikmah Adanya Kata Serapan dalam Al-Qur’an

Sebagai bukti bahwa Al-Qur’an  mencakup semua pengetahuan orang-orang terdahulu dan sekarang. Kata-kata muarrab ini membuktikan bahwa Al-Qur’an  mencakup ilmu terdahulu, sekarang, semua semesta alam, dan wajib mempunyai bukti bahwa dia mencakup semua bahasa, maka kemudian bahasa yang paling sopan, terbaik, dan frekeunsi penggunaan untuk bahasa Arab. Maka kata-kata Habasyah, Persia, romawi di dalam Al-Qur’an  misalnya, menunjukkan bahwa Al-Qur’an  mencakup semua ilmu, dan tidak hanya berkutat kepada masyarakat Arab.

Di samping itu, ini juga menunjukkan akan tingginya derajat Al-Qur’an  dari seluruh kitab-kitab yang diturunkan. Ibnu Naqib menjelaskan bahwa dari karakteristik Al-Qur’an  yang membedakan dengan kitab-kitab sebelumnya ialah berbahasa Arab dan juga berbahasa Romawi, Persia, Habasyah. Berbeda dengan kitab-kitab yang lain hanya berbahasa kaumnya, dan tidak berbahasa kaum yang lain.

Sesungguhnya nabi Muhammad saw. diutus untuk seluruh umat manusia, maka sudah seharusnya kitab yang dibawa Muhammad juga mencakup bahasa seluruh umat, meskipun kitab itu mayoritas berbahasa Arab. Oleh karena itu, Al-Qur’an  mengandung kata-kata berbahasa Persia karena ketika itu bangsa tersebut terkenal dengan kemajuan peradabannya dan bahasanya dipakai oleh bangsa-bangsa. Sebagai bukti Al-Qur’an  untuk semua umat, maka ia juga mengandung kata-kata bahasa internasional diantaranya bahasa Persia yang ketika itu menyebar sampai ke Mesopotamia, bahkan peradabannya hampir mengeser peradaban Habasyah di daerah Makkah.

Sebagian kata-kata yang diperlukan dalam Al-Qur’an  tidak terdapat dalam bahasa Arab, maka kata-kata itu diambil dari bahasa lain, karena maknanya lebih luas dan sesuai daripada bahasa Arab. Kata “الحرير” yang artinya berat dan berharga, sedangkan dalam bahasa Arab “الصفيق” ringan dan berharga, maka penggunakan kata pertama lebih didahulukan karena maknanya lebih luas dan sesuai dari kata kedua. Hal ini juga membuat penyebutan kata yang lebih ringkas dan efektif. Dengan menggunakan satu kata lebih utama daripada dua kata atau lebih, karena itu lebih jelas dan efektif, kata “إِسْتَبْرَقٍ” digunakan karena tidak ada satu kata bahasa Arab yang sama.

 

Al Mu’arrab dalam Diskursus Orientalisme

Kajian orientalisme khususnya yang meneliti tentang Islam menjadikan persoalan kosakata serapan (muarrab) sebagai pintu gerbang untuk menggugat otentisitas al-Qur’an. Para orientalis berpendapat Al-Qur’an banyak diwarnai dengan kosakata dan ajaran Yahudi-Kristen. Salah seorang yang pertama kali mengatakan bahwa Al-Qur’an dipengaruhi agama Yahudi adalah Abraham Geiger (1810-1874). Pada tahun 1833, Geiger menerbitkan essai dalam bahasa Jerman dengan judul “Was hat Moham­med aus dem Judenthume aufgenommen?” (Apa yang telah Muhammad Pinjam dari Yahudi?). Dalam essai tersebut, Geiger menyimpulkan kosa kata Ibrani cukup berpengaruh terhadap Al-Qur’an. Kata-kata yang terdapat di dalam Al­-Quran seperti Tabut, Taurat, Jannatu ‘Adn, Jahannam, Ahbar, darasa, Rabani, Sabt, Taghut, Furqan, Ma`un, Mathani, Mala­kut berasal dari bahasa Ibrani. Selain itu, Geiger berpendapat Al-Qur’an juga terpengaruh dengan agama Yahudi ketika mengemukakan hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin, peraturan-peraturan hukum dan moral dan pandangan tentang kehidupan. Selain itu, Geiger berpendapat cerita-cerita yang ada di dalam Al-Qur’an pun tidak terlepas dari pengaruh agama Yahudi.[14]

Baca juga:  Selamat Natal tentang Sejarah Indonesia

Teori pengaruh yang dikemukakan Geiger dikembangkan lagi oleh para orientalis lainnya, Theodore Noldeke dalam bukunya, “Sketches frorn Eastern History”. Ia menginginkan klasifikasi dan diskusi yang komprehensif mengenai segala elemen Yahudi di dalam Al-Qur’an. Berbagai tuduhannya terhadap Al-Qur’an juga dilemparkan, di antaranya: menuduh Muhammad salah menerapkan ungkapan-ungkapan Aramaik “Furqan”, misalnya, sebenar­nya bermakna “penebusan” (redemption), namun bagi Muhammad makna tersebut dalam bahasa Arab menjadi wahyu (revelation). “Millah” sepatutnya bermakna “kata” ( word), namun di dalam Al-Qur’ an menjadi “agama”.[15]

Teori pengaruh bahasa asing di dalam Al-Qur’an  dalam diskursus orientalisme selanjutnya berkembang dengan menjamurnya tulisan-tulisan orientalis tentang Al-Qur’an. Siegmund Fraenkel menulis sebuah buku tipis dalam bahasa Latin dengan judul “De Vocabulis in antiquis Arabum carminibus et in Corano peregrinis” (Mengenai kosa kata asing di dalam puisi Arab kuno dan di dalam AI-Qur’an) (1880). Selain itu, Fraenkel juga menulis pengaruh Aramaik kepada bahasa Arab pada tahun 1886 dengan judul “Die Aramaischen Fremworter im Arabischen” (Kosa kata Asing Aramaik di dalam Bahasa Arab).[16]

Selain Fraenkel, Hartwig Hirschfeld, seorang Yahudi Jerrnan kelahiran Prussia, memfokuskan betapa pentingnya melacak kosa kata asing (Fremdworter) Al-Qur’an. Hirschfeld, yang mendapat gelar doktor ketika berusia 24 tahun, menulis disertasi doktoralnya dengan judul “Judische Elemente im Koran. Ein Beitrag zur Koranforschung”, Berlin 1878 (Elemen-elemen Yahudi dalam Al-Qur’an. Sebuah Sumbangan untuk Penelitian Al-Qur’an). Delapan tahun kemudian, Hirshfeld menulis “Beitrage zur Erklarung des Koran”, Leipzig 1886 (Sumbangan untuk Tafsir Al-Qur’an). Ia juga menulis New Researches into the Composition and Exegesis of the Qoran, London, 1901 (Penelitian-penelitian Baru dalam Penulisan dan Tafsir Al-Qur’an).

Salah satu tokoh orientalis yang paling penting dalam kajian ini adalah Arthur Jeffery, seorang Australia yang mengajar di Universitas Amerika, Kairo. Jeffery menulis buku “The Foreign Vocabulary of the Qur’an”(Kosakata asing Al-Qur’an). Di dalam bukunya, ia menuliskan sebanyak 275 kosakata asing di dalam Al-Qur’an selain nama diri. Ia berpendapat bahwa Al-Qu’ran bukan saja berada di bawah pengaruh Yahudi-Kristen, tetapi juga terpengaruh dari bahasa lain seperti Ethiopia, Aramaik, Ibrani, Yunani kuno, Persia dan lain-lain. Hal ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an tidaklah seotentik yang diyakini oleh umat Islam. Menurut Jeffery, mengetahui kosakata asing Al-Quran adalah sebuag keharusan untuk memahami Al-Qur’an itu sendiri. Jika pengaruh kosa kata asing di dalam Al-Qur’an bisa dieksplorasi, Jeffery berharap maka kamus Al-Qur’an yang memuat sumber-sumber filologis, epigrafi, dan analisa teks akan bisa diwujudkan. Kamus tersebut akan digunakan untuk meneliti secara menyeluruh kosa kata Al-Qur’an. Dalam benak Jeffery, kamus Al-Qur’an tersebut bisa dibandingkan dengan kamus (Worterbuch) yang sudah digunakan untuk Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

 

Daftar Pustaka

 

Armas, Adnin. Kosa Kata Asing Al-Qur’an, artikel.  http://harusmasukislam.wordpress.com/.  Selasa, 15 November 2010

A’zami, Muhammad Musthafa Al. The History of the Qur’anic Text, from Revelation to Compilation. Terj. Sohirin Solihin, dkk. Jakarta: Gema Insani Press, 2005

Geiger, Abraham. What Did Muhammad Borrow from Judaism? dalam The Origins of the Koran, editor Ibn Warraq. New York: Prometheus Books, 1998

Ghonim, Karim Sayyid. Al Lughoh Al Arabiyah wal As Shofwah Al Ilmiyah Al Haditsah. Kairo: Maktabah Al Khonji, 1999

Jeffery,  Arthur. The Foreign Vocabulary of the Quran. Baroda: Oriental Institute, 1938

Manzhur, Ibn.  Lisan al-‘Arab. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi wa Mu’assasat al-Tarikh al-‘Arabi, 1999 vol. 9

Sarwat, Ahmad. Apakah dalam Al-Quran Ada Bahasa Serapan Asing. Artikel. http://www.eramuslim.com/alquran/apakah-dalam-quran-ada-bahasa-serapan-asing.htm#.UXJWR8pHWA0.  Kamis, 6 Desember 2007.

Suyuthi, Jalaluddin As. Al Itqan Fi Ulum Al Quran. juz 1. Beirut: Dar el Kutub el Ilmiah, 1995. Cet. III

————— Al Muhadzab Fii Maa Waqa`A Fil Quran Minal Muarrab. Beirut: Muassasah Ar Risalah, 2008

Tawwab, Ramadhan Abdul At. Fushul fi Fiqhi Al Arabiyah. Kairo: Maktabah Al Khonji, 1999

Zarkasyi, Badruddin Muhammad bin Abdullah Az, Al Burhan fie ‘Ulumil Quran. juz 1. Beirut: Dar el Fikri, 2001

 

[1] Ramadhan Abdul At Tawwab, Fushul fi Fiqhi Al Arabiyah, (Kairo: Maktabah Al Khonji, 1999) Cet. II, h. 38

[2] Ibid

[3] Ibn al-Manzhur.  Lisan al-‘Arab (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi wa Mu’assasat al-Tarikh al-‘Arabi, 1999), vol. 9, h. 113-118

[4] Dr. Karim Sayyid Ghonim. Al Lughoh Al Arabiyah wal As Shofwah Al Ilmiyah Al Haditsah, (Kairo: Maktabah Al Khonji, 1999), h. 109

[5] Ibid

[6] Muhammad As‘ad al-Nadiry, Fiqh al-Lughah: Manahiluh wa Masailuh, (Beirut: Maktabah al-‘Ashriyyah, 2009), h. 320

[7] Jalaluddin As Suyuthi, Al Muhadzab Fii Maa Waqa`A Fil Quran Minal Muarrab, (Beirut: Muassasah Ar Risalah, 2008), h. 203

[8] Arthur Jeffery, The Foreign Vocabulary of the Quran, (Baroda: Oriental Institute, 1938), h. 23

[9] Ibid

[10] Jalaluddin As Suyuthi, Al Itqan Fy Ulum Al Quran, juz 1, (Beirut: Dar el Kutub el Ilmiah, 1995), Cet. III, hal. 288

[11] Badruddin Muhammad bin Abdullah Az Zarkasyi, Al Burhan fie ‘Ulumil Quran, juz 1. (Beirut: Dar el Fikri, 2001), h. 359

[12] Ahmad Sarwat, Lc. Apakah dalam Al-Quran..

[13] Jalaluddin As Suyuthi, Al Muhadzab… h. 5

[14] Abraham Geiger, What Did Muhammad Borrow from Judaism? dalam The Origins of the Koran, editor Ibn Warraq (New York: Prometheus Books, 1998), 165-26

[15] Adnin Armas, MA. Kosa Kata Asing Al-Qur’an, artikel.  http://harusmasukislam.wordpress.com/. Selasa, 15 November 2010

[16] Ibid

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: