HomePojok MadrasahOpiniUrang Siak: Denyutnya yang Semakin Berkurang

Urang Siak: Denyutnya yang Semakin Berkurang

Opini Pojok Madrasah 0 0 likes 12 views share

Urang Siak, itulah dulu sewaktu saya masih kecil nama yang disematkan kepada anak-anak sekolah Parabek  oleh orang kampuang. Entah kenapa disebut demikian, sampai hari ini saya belum mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang itu. Konon katanya dulu banyak orang dari Siak Riau sana pergi menuntut ilmu agama ke Sumatera Barat, sehingga nama ini menjadi melekat bagi mereka yang menuntut ilmu agama.

Dulu, para tetua menyematkan kata siak sebelum daerah asal pelajar. Misalnya, orang Siak Piaman, orang Siak Canduang, orang Siak Malalak, orang Siak Padang dan seterusnya. Selain itu,   saya masih ingat kalau Siak juga disematkan untuk orang yang shaleh. Ungkapan siak ini juga disampaikan kepada mereka yang tidak sekolah agama tetapi memiliki kesadaran beragama dengan baik,  sering didengar “ang alah siak kini yoh”.

Urang Siak ini dulunya tinggal di surau-surau yang konon dibangun oleh mereka di atas lahan pinjaman dari orang kampung. Surau ini bukanlah tempat beribadah, akan tetapi asrama tempat tinggal mereka bersama-sama dan sekaligus tempat belajar tidak formal. Terjadi transformasi dari senior kepada juniornya. Ada surau Padang, surau Piaman, surau Dindiang Seng, surau Kapatabang, surau Malalak dan banyak surau-surau lainnya.  Berdirinya surau-surau ini menunjukkan bahwa begitu besarnya dukungan masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang didirikan oleh Inyiak Syekh.

Seiring dengan perjalanan waktu, surau-surau ini mulai berkurang dan akhirnya tidak ada lagi. Banyak faktor yang mempengaruhi itu. Salah satunya adalah semakin banyaknya sekolah agama yang berdiri menjadi alternatif belajar agama dan juga soal biaya pendidikan yang semakin mahal. Disamping itu juga mungkin Madrasah melihat bahwa surau-surau ini tidak dibutuhkan lagi (semoga saja pendapat yang terakhir ini salah). Ketika surau-surau ini ada, denyut keberadaan urang Siak ditengah masyarakat sangat terasa perannya. Masyarakat sangat mempercayai  mereka sebagai seorang yang shaleh yang bisa memberikan sedikit pelita penerangan kebutuhan spritual masyarakat. Mereka berperan dalam mengayomi masyarakat dalam bidang keagamaan.

Baca juga:  Tuan Guru Bajang di Masjid Jami’ Parabek

Dulu sering acara jamuan makan sering diawali dengan mando’a di rumah-rumah. Kehadiran urang Siak sangat dinantikan. Tidak akan dimulai acara itu sebelum urang Siak hadir. Selain itu mereka juga menyatu dengan pemuda-pemuda kampung dan sebahagian mereka juga berperan dalam memberikan pendidikan keagamaan untuk anak-anak melalui pendikan di tempat mengaji. Waktu saya dulu belumlah familiar MDA dan TPA. Keberadaan urang Siak benar-benar memberikan gairah tersendiri dalam dinamika kehidupan bakampuang. Diakui atau tidak kampuang terasa semarak karena indahnya kebersamaan urang Siak denga urang kampuang. Gotong royong, acara-acara dan segala jenis kegiatan lainnya.

Kini sebutan urang siak untuk anak-anak Parabek sangat jarang lagi didengar. Arus perubahan yang cukup deras telah sedikit menggeser sebutan itu. Dulu Ustaz Abdul Gafar menyebut mereka dengan para pelajar-pelajar, kemudian mulai dikenal istilah siswa dan siswi. Sekarang sebutan itu pun telah berubah menjadi santri. Nama Madrasah juga sudah berganti menjadi Pondok Pesantren Sumatera Thawalib. Entah kapan pergantian ini terjadi dan apa alasannya saya tidak memilki informasi tentang itu. Ketika masih berkesempatan memberikan sumbangan tenaga dan sekaligus belajar di lembaga ini sampai tahun 2002, namanya Madrasah Sumatera Thawalib. Bisa saja sebutan nama itu juga mempengaruhi kebijakan-kebijakan terhadap mereka yang belajar.

Menurut hemat saya keberadaan surau-surau ini telah mengembangkan tujuh kecerdasan yakni, Verbal/linguistik, Matematis/Logis, Tubuh/kinestetik, Spasial/visual, Musikal, Interpersonal, Intrapersonal (sekarang sudah di kembangkan mejadi sembilan) bagi para pelajar-pelajar yang menuntut ilmu di Parabek. Memang pada waktu itu belumlah dikenal istilah ini. Mereka tidak dibatasi dengan tembok-tembok kokoh yang berdiri untuk berinteraksi dengan masyarakat yang penuh dinamika. Proses belajar alamiah ini telah menjadikan  mereka sebahagian besar orang-orang yang cakap dalam memimpin masyarakat. Karena posisi mereka di tengah-tengah masyarakat itu  mendapat tempat tersendiri.

Baca juga:  Surau Parabek, Literasi, dan Intelektualitas Kita?

Nilai ujian tidaklah menjadi ukuran tingkat keberhasilan. Menurut saya, Madrasah berhasil memberikan motivasi secara tidak langsung kepada pelajar/siswa/santri untuk bertanggung jawab sebagai agen perubahan di tengah-tengah masyarakat. Madrasah memberikan ruang kepada mereka untuk menemukan format tersendiri bagi kehidupan mereka. Terlihat dari banyaknya organisasi-organisasi pelajar yang ada dan dinaungi oleh induk oraganisasi IPKST (saat ini IPST). Tidak pernah terdengar atau terlontar kekhawatiran-kekhawatiran menjadi apa mereka kelak setelah tamat di Madrasah ini. Ini mungkin salah satu keberhasilan penanaman nilai tauhid yang berhasil menurut saya. Mencengangkan, konsep belajar yang digariskan UNESCO sebetulnya sudah jauh diterapkan oleh Madrasah ini dengan adanya surau. Konsep Learning to Know, Learning to do, Learning to live together, Learning to be  sudah berjalan.

Sakali aia gadang, sakali tapian barubah kata pepatah, diakui atau tidak, keberadaan urang siak tidak lagi terasa. Benar atau tidak, wallahu’alam, seakan sudah terjadi jurang pemisah. Mereka tidak lagi terintegrasi dengan masyarakat. Santri untuk sebutan sekarang hanya sebagai santri semata. Tingkatan keberhasilan pendidikan sepintas terkesan hanya dalam ukuran angka-angka. Keberagaman telah berubah menjadi keseragaman. Penggiringan terhadap warna tertentu pelan-pelan bagi mereka yang memahami sudah terasa. Thawalib yang lahir sebagai penerus perjuangan gerakan pembaharuan dari Harimau nan Salapan telah mengalami pergeseran. Kadang memang kita sering terjebak pada rumput tetangga seolah lebih hijau dari pada rumput yang tumbuh di halaman kita sendiri. Wallahu ‘alam bisshawab. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *