Valentine’s Day: Yes atau No?

Merujuk kalender Masehi, besok adalah 14 Februari, hari Valentine`s Day (hari kasih sayang). Manusia Barat dan Timur hampir tidak luput untuk merayakan perhelatan ini setiap tahunnya dengan berbagai bentuk cara, apakah dalam bentuk formal atau non-formal.

Formal dalam artian merayakannya terbatas pada keluarga besar inti saja. Hal ini cenderung ke arah yang positif, karena terikat dengan nilai-nilai moral ditengah keluarga disamping adanya nilai-nilai agama pada masing-masing individu. Namun perhelatan seperti ini tidak banyak ditemukan. Sedangkan non-formal bersifat non-limited dalam arti kata merayakannya bebas dengan siapa saja, termasuk teman dekat, sahabat dan orang-orang yang baru dikenal. Perayaan non-formal ini cenderung negatif – walau tidak semua – karena biasanya nilai-nilai moral di tengah pergaulan sesama cenderung luntur, hilang dan sepi. Perhelatan informal ini berserakan dimana-mana tatkala merayakan Valentine`s Day.
Beranjak dari perhelatan non-formal yang cenderung melahirkan kemaksiatan itulah menimbulkan reaksi dari penganut agama-agama untuk mengharamkan merayakan Valentine`s Day. Penafsiran yang dikemukakan – terutama penganut agama Islam – dalam pengharaman ini ternyata bermuara pada sejarah lahirnya Valentine`s Day tersebut. Merujuk berbagai macam referensi ternyata asal-usul Valentine`s Day ini sangat beragam, bahkan sampai dengan enam versi cerita. Disebabkan sangat variatif inilah saya tidak akan memaparkan satu atau semua versi cerita tersebut dalam tulisan ini karena tidak mau terjebak dengan pengkultusan satu versi cerita yang masing-masingnya belum tentu absah, atau bisa jadi hanya sebuah cerita legenda atau mitos. Namun, benang merahnya adalah semua versi cerita itu berasal dari Barat yang terjadi dalam dunia Kristen. Inilah yang menurut saya titik tolak pengharaman dari para penganut agama di samping berpotensi maksiat yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Manusia mempunyai hak preogratif untuk berpendapat bahkan menilai sesuatu hal apapun menurut pemahamannya sendiri. Namun, sebagai manusia yang beragama dan berakal tentu agama yang telah dianut akan menggiring akal kepada sesuatu yang beradab. Keadaban ini justru banyak ditemukan dalam beragama. Logikanya, seandainya beradab orang yang tidak beragama dari pada orang yang beragama, berarti pemahaman agamanya tidak beres, bukan agama yang telah gagal. Artinya, konflik antar agama tidak bisa dihindari seandainya pengharaman valentine`s day terbatas pada penafsiran asal-usul saja.
Sekarang kita lihat pemetaan dalam menafsirkan valentine`s day menurut pandangan keagamaan Islam yang saya pahami. Dalam setiap agama memiliki unsur eksoteris (simbol) dan esoteris (substansi). Valentine`s day pada tanggal 14 Februari tersebut bersifat esoteris. Substansi dari kata valentine`s day itu sendiri memiliki makna positif yaitu hari berkasih sayang. Dalam agama Islam dianjurkan untuk berkasih sayang sebagaimana firman Allah dalam surat Maryam ayat ke-96 yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”. Surat Maryam ini salah satu dari sekian banyak firman Allah tentang kasih sayang di dalam al-Qur`an karena memang kehadiran Islam itu untuk menyebarkan rahmatan lil`alamin. Seharusnya berkasih sayang itu tidak dirayakan hanya bertepatan pada tanggal 14 Februari saja, melainkan setiap hari sepanjang penerapannya kepada hal yang positif, bukan berbaur maksiat seperti yang kita lihat dalam perayaannya selama ini. Perayaaan valentine`s day positif atau negatif inilah yang dimaksud dengan makna eksoteris (simbol). Memang tak dapat dipungkiri bahwa perayaan valentine`s day selama ini lebih cenderung ke arah maksiat seperti yang ditampakkan kaum generasi muda khususnya. Pertukaran hadiah kado dijadikan sebagai simbol awal kasih sayang, kemudian diakhiri dengan ‘persentuhan fisik’ yang sangat tidak lazim untuk diterapkan sebagai manusia yang belum bersaksi dihadapan Tuhan (menikah).
Melihat bentuk perayaan valentine`s day yang negatif tersebut bukan serta merta kita berhak untuk mengharamkan perayaaan valentine`s day. Karena secara substansi (esoteris) merayakan kasih sayang (valentine`s day) tidaklah salah. Tetapi yang salah itu adalah bentuk (eksoteris) dari valentine`s day yang negatif tersebut. Maka dari itu, marilah rayakan hari valentine`s day dengan nuansa positif. Misalnya, dalam sebuah keluarga saling memupuk rasa kepedulian, cinta dan kasih sayang baik antara suami ke istri, sesama saudara, dan orang tua kepada anak-anak; dalam pergaulan masyarakat saling menjauhi kebencian, kemaksiatan dan prasangka-prasangka buruk. Inilah bentuk kasih sayang sejati dalam beragama yang baik.
Akhirnya, secara substansi tidak ada persoalan untuk merayakan valentine`s day pada tanggal 14 Februari, walaupun asal-usulnya bersumber dari cerita kekristenan Barat. Karena di dalam agama Islam semangat kasih sayang tersebut justru mendapatkan derajat yang tinggi. Namun, yang harus dibenahi adalah bentuk perayaan dari valentine`s day tersebut yang cenderung negatif terutama dari generasi muda. Karena di dalam Islam pun, segala yang berbaur maksiat tidak bisa diterima. Marilah berkasih sayang sepanjang hari. Wallahualambishawab.[]

Baca juga:  Memperkenalkan UIN Jogja kepada Ust. Khalid Basalamah

Riki Saputra

Riki Saputra adalah seorang Doktor di bidang Filsafat Agama jebolan UGM. Saat ini ia mengajar di sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Barat, seperti IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Bukittinggi, dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Ia adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2001.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: