Wallahu A’lam dan Kearifan dalam Berilmu

Kitab-kitab kuning masih tersusun rapi di rak-rak buku perpustakaan. Mereka bisu menyembunyikan apa yang mereka ‘tahu’ dari pengarangnya. Sejatinya mereka hanya sekumpulan kertas yang dibendel jadi satu sebagai wadah menuangkan ekspresi para penulisnya.

Ekspresi tersebut ditulis berawal dari realitas yang dipahami dan diolah dalam otak sehingga melahirkan pemahaman. Pemahaman yang dicerna dari realitas inilah yang nantinya dituliskan sebagai ekspresi dari apa yang berkutat di kincir-kincir otak.

Berbicara tentang tradisi penulisan kitab-kitab kuning berbahasa Arab, ada fenomena menarik dari para penulis ini yang unik dan patut dibicarakan. Secara umum mereka membubuhkan kata والله أعلم – wallahu a’lam (Hanya Allah yang Lebih Tahu) atau yang senada dengan itu pada setiap akhir penulisan gagasannya.

Kata tersebut juga bisa menjadi penutup dari sebuah buku yang menandakan buku yang Anda baca sudah tamat. Lalu apa maksud dari penulisan kata itu? Kenapa para penulis secara kolektif membubuhkannya sebagai akhir dari ide yang disampaikan?

Jika kita berpikir secara teologis, kata tersebut akan menjadi kata sakti yang membingkai indah sebuah gagasan, sehingga pemahaman yang diperoleh tidak lebih dari secuil ilmu Allah. Allah dengan semesta pengetahuannya menyisihkan sepersekian dari ilmu-Nya yang singgah pada benak manusia yang haus pengetahuan ini.

Di sisi lain, hal tersebut bisa juga dimaknai sebagai bukti ketundukan akal manusia akan penciptanya yang Maha Mengetahui. Implikasinya, akan ditarik kembali ke ranah spiritual bahwa manusia disadarkan kembali hanya Allah yang empunya pengetahuan. Sehingga berimanlah kepada-Nya karena Dia yang telah membuka tabir pengetahuan yang tak terbatas.

Tulisan ini tidak akan berdalam-dalam dalam ranah teologis di atas. Silakan eksplorasi dan kembangkan lebih jauh! Akan tetapi, penulis akan menilai fenomena tersebut dari sirkulasi pengetahuan itu sampai ke hadapan kita.

Kita ambil contoh sederhana bagaimana kita memaknai sebuah bencana alam terlebih dahulu. Kita dan orang-orang di sekitar dihadapkan dengan bencana banjir bandang yang menelan banyak kerugian.

Lalu, banjir tersebut menjadi bahan pembicaraan yang hangat di sekitar kita. Orang-orang mulai memahami dalam diri mereka masing-masing akan realitas tersebut. Kemudian, pada gilirannya akan muncullah ekspresi sebagai buah dari pemahaman dalam diri.

Mulailah bermunculan pendapat bahwa banjir itu sebagai bentuk laknat dari Allah kepada orang-orang yang zalim. Ada yang memaknainya adalah sebagai ujian bagi hamba-Nya untuk naik ‘kelas’.

Lain dari itu juga timbul penafsiran berbeda yang menyebutnya sebagai rahmat yang mendatangkan berkah pasca banjir. Dan masih akan banyak lagi ekspresi yang bermunculan dari masing-masing orang. Lalu bagaimana selanjutnya?

Banjir tersebut pada hakikat hanya sebuah realitas. Realitas tersebut bisu tanpa bisa diajak bicara apa maksudmu berbuat begini dan begitu. Lalu manusia yang berakal ini ada di hadapan realitas bisu itu yang aktif berpikir dalam diri mereka masing-masing.

Maka realitas yang bisu itu mulai dipahami dalam horizon diri yang terbatas pula sehingga lahirlah sebuah pemahaman. Maka, realitas yang bisu itu telah direduksi di dalam diri menjadi sebuah pemahaman. Kemudian pemahaman yang bergejolak dalam kepala mulai diekspresikan ke hadapan publik sehingga muncullah sari pati ketiga yang biasa disebut pemaknaan, penafsiran ataupun ekspresi.

Ekspresi itu pun telah mereduksi pemahaman dalam diri dari sekian pilihan yang ada. Jadi, dari realitas ke pemahaman kemudian ke ekspresi telah terjadi sebuah simplikasi atau reduksi positif dalam menyikapi sebuah realitas. Lalu, apa hubungannya dengan fenomena wallahu a’lam?

Kita menyadari dalam sirkulasi pengetahuan, salah satunya yang didokumentasi dalam kitab-kitab kuning juga lahir dari rahim sebuah realitas yang bisu. Kita kembali ke masa Nabi Muhammad sebagai masa turunnya Al-Qur’an dan disabdakannya hadis. Beliau tidak kosong dari realitas yang ada di sekitarnya.

Begitu juga para Sahabat atau yang dalam ranah yang lebih umum disebut “Saksi Pertama Al-Qur’an dan Hadis”. Mereka juga bagian dari realitas. Mereka ikut memaknai realitas yang ada di sekitarnya. Mereka mengaitkan ayat Al-Qur’an dengan sebuah kejadian atau sebuah kejadian berhubungan erat dengan ayat Al-Qur’an, sebagaimana juga pada hadis dan lainnya.

Pada gilirannya penafsiran mereka yang menjadi memori kolektif itu juga dikonsumsi generasi setelahnya. Bagi generasi baru ini, rekaman memori kolektif tersebut menjadi realitas baru. Pada gilirannya, realitas baru ini juga menemui praktik penafsiran baru atau lanjutan.

Sirkulasi ini secara natural terpelihara hingga memamah kitab-kitab yang sampai ke hadapan kita. Rangkaian ini kemudian menjadi sebuah tradisi yang merekam sekian banyak realitas yang sambung menyambung melintasi generasi.

Sebagai contoh lagi, Tafsir Al-Azhar yang dikarang Buya Hamka juga merupakan hasil interpretasinya dari kitab-kitab tafsir sebelumnya yang bisu yang dipahami Hamka kemudian disampaikannya dalam bentuk tafsir yang berjilid-jilid pula. Kita pun akan memahami dan menafsiri ulang terkait apa yang dipahami Hamka sebagai seorang penafsir.

Akan begitulah kenyataannya jika ditelusuri dan diproyeksikan lagi ke belakang sampai ke sumber pertama yang menjadi realitas awal yang melahirkan penafsiran hingga mencapai usia hampir 15 abad lamanya dalam tradisi Islam. Bisa dibayangkan jika masanya lebih lama lagi dari itu.

Maka, implikasinya pengetahuan yang diwarisi sekarang adalah hasil reduksi dalam arti positif sebagai bentuk penyederhanaan pemahaman akan realitas yang bertali temali sampai ke zaman terdahulu. Maka kenyataan ini menjadi momentum kearifan seorang pengarang akan luasnya sebuah pengetahuan yang bertransimisi waris-mewariskan dari memori orang-orang sebelumnya.

Di sinilah kata Wallahu A’lam berperan penting sebagai simbol kebijaksanaan penulis dalam keilmuan sekaligus penyebarannya. Karena pengetahuan yang dimilikinya pun juga sebagai hasil penafsirannya dari warisan pengetahuan orang sebelumnya, yang tidak terbebas dari reduksi dan simplikasi. Wallahu A’lam.

Tulisan ini terinspirasi dari kuliah Dr. Ahmad Rafiq, Dosen UIN Sunan Kalijaga

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: