Wanita yang Jatuh (Cinta) pada Hitam

Mereka bilang hitam adalah warna kegelapan. Hitam dekat dengan kematian, kesialan, penyesalan, dan perasaan paling tersembunyi dari hati seseorang. Dia adalah warna yang memberikan kenyamanan bagi siapa pun yang sedang ingin bersembunyi.

Namun pernah suatu masa, aku melihat hitam sebagai warna yang begitu indah.

Di desa kami, dekat pinggiran hutan, konon katanya berdiri sebuah rumah megah. Nenekku yang bawel sekali pun tidak banyak bercerita tentang hal ini. Begitu pun penduduk desa yang lain. Tetua hanya memberi maklumat bahwa tiada seorang pun yang boleh memberanikan diri ke sana. Kata mereka, rumah itu adalah hitam.

Umurku waktu itu sepuluh tahun. Aku adalah gadis kecil dengan rasa percaya diri kelewat tinggi. Di antara teman sekelasku, hanya aku yang bisa membaca dan menulis. Bu guru sering memberiku hadiah saat aku berhasil menamatkan sebuah buku yang ia pinjamkan. Dari buku-buku itu aku belajar bahwa rasa takut justru menjadi alasan seseorang tidak menemukan petualangannya. Tidak seharusnya desa yang digelari pemburu harimau takut dengan hitam. Tapi aku tak berani bilang pada ayah atau ibu. Terakhir kali aku memberitahu mereka kalau aku ingin mencari petualanganku di rumah hitam, aku dikurung tiga hari di kamar.

Jadi, di hari yang telah kurencanakan seminggu belakangan, aku memutuskan untuk mendapatkan petualanganku. Aku akan berkunjung ke rumah hitam. Aku bakal jadi orang pertama yang menceritakan pada semua orang tentang rumah yang belum pernah dikunjungi siapa pun.

“Kau yakin mau pergi?” tanya Alice, dia adalah anak perempuan paling penakut yang kukenal.

“Kau sudah janji tak akan memberitahu yang lain kan? Apalagi orang tuaku. Jangan sampai ada yang tahu!” jawabku berbisik.

Aku sengaja memberitahu Alice. Aku penasaran melihat wajah penakutnya saat tahu aku akan memulai petualanganku.

“Apa kau mau ikut?” tanyaku menjulurkan tangan.

Sesuai dugaanku, Alice menggeleng.

Aku melihat hitam sebagai warna yang begitu indah. Perempuan itu terlihat lebih tua dari bu guru, namun masih lebih muda dari ibu. Rambutnya sebahu, hitam pekat seperti warna seluruh pakaian yang menutupi kulit putihnya. Aku heran, belum pernah aku melihat seseorang dengan pakaian panjang menyentuh tanah di tengah-tengah hutan.

Rasa penasaran membuatku mendekat. Namun aku justru makin penasaran melihat kelopak mata perempuan itu yang tertutup. Lebih anehnya, dia sama sekali tidak mengenakan tongkat seperti bapak tua buta di dekat rumah kepala suku.

“Apa kau buta?” tanyaku tak mampu menyembunyikan rasa penasaranku.

Perempuan itu tak kelihatan kaget. Dia justru berjongkok, menyamakan tingginya denganku.

“Apa aku terlihat seperti orang buta bagimu?” tanyanya.

Aku mencoba mengingat-ingat lagi. Tidak semua orang buta memiliki kelopak mata yang tertutup. Apa itu juga berarti bahwa orang yang menutup kelopak matanya tidak semuanya buta?

“Kau tidak terlihat seperti orang buta” jawabku yakin. “Tapi, kenapa seluruh bajumu dari atas sampai bawah, semuanya hitam? Apa karena kau menutup kelopak matamu, kau jadi tak bisa membedakan warna pakaian apa yang kau kenakan?” tanyaku lagi.

Dia justru tersenyum. “Aku jatuh cinta pada hitam” jawabnya.

Dahiku berkerut. Waktu itu umurku masih sepuluh. Aku belum mengenal cinta sebagai suatu perasaan yang rumit. Yang aku tahu, cinta adalah ayah dan ibu. Cinta adalah kakek dan nenek, paman dan bibi, laki-laki dan perempuan. Cinta adalah segala yang berpasangan.

Lalu, bagaimana mungkin dia jatuh cinta pada hitam?

“Apa karena kau memiliki kulit seputih salju, maka kau jatuh cinta pada hitam?” tanyaku makin penasaran.

“Mengapa kau berkata seperti itu?” dia balas bertanya.

“Cinta adalah hal yang berpasangan. Ayah dan ibu, kakek dan nenek, paman dan bibi, laki-laki dan perempuan. Karena kau putih, makanya kau jatuh cinta pada hitam, kan!” tebakku.

Aku merasa seperti orang paling tahu. Aku sudah bilang kan, aku anak paling cerdas di kelas.

Tapi perempuan itu justru mengulurkan tangan dan menutup kedua kelopak mataku dengan masing-masing telapak tangannya. Pandanganku beralih hitam.

“Apa yang kau lihat?” tanyanya.

“Hitam.”

“Lalu, apa yang kau rasakan?”

Aku tidak tahu. Aku sama sekali tak bisa memikirkan apa pun. Detik selanjutnya aku melihat warga desa berlari panik ke arahku. Di dekat tetua, Alice berdiri takut-takut. Dia telah melanggar janjinya.

Aku mencoba berontak, namun tangan orang dewasa begitu kuat. Aku hanya bisa melihat ke arah perempuan itu. Namun aku tak menemukan siapa pun. Di kejauah, meski samar, kurasa aku melihat rumah hitam. Tonggak-tonggaknya kokoh, kayunya mahoni berukir. Terlihat benar-benar asing di pemandangan hutan. Terlalu mencolok, namun luput. Berdiri entah sejak kapan di sana.

Aku kena marah habis-habisan. Tidak hanya ayah dan ibu, bahkan kepala suku ikut memarahiku. Aku belum sempat berteriak pada Alice karena dia melanggar janjinya. Aku sudah terlanjur di kurung di kamar, lengkap dengan pengawasan dua orang dewasa hampir 24 jam.

Aku banyak menghabiskan waktuku dengan tidur-tiduran. Ibu mengambilkan boneka dan buku bacaanku, namun nyatanya hal itu tidak bisa menepis rasa bosanku.

Juga rasa penasaranku.

Setelah kejadian itu, aku makin penasaran dengan hitam. Tiap malam, aku sengaja tak menyalakan lampu. Aku menikmati kesunyian dan kegelapan. Bintik-bintik seperti semut putih berjalan hampir tiap malam datang.

Meski kau menutup matamu, kau belum bisa melihat hitam yang sebenarnya.

Aku tidak tahu darimana aku mendapat ide gila itu. Memang tiap aku menutup mata, masih ada saja warna selain hitam yang ikut muncul. Lalu aku bertanya-tanya, apa perempuan itu juga melihat warna lain selain hitam saat ia memejamkan kelopak matanya.

Rasa penasaran membuatku makin gila. Kini, siang hari pun aku mencoba memejamkan mataku. Sesekali tanganku ikut membantu menghalau cahaya. Aku ingin melihat hitam. Hitam yang sebenarnya.

Makin lama, aku makin terbiasa dengan kelam. Meski aku masih belum bisa melihat hitam total, tapi mataku sudah lumayan terbiasa dengan keadaan tanpa cahaya. Aku mulai bisa merasakan benda-benda di sekitarku. Aku mulai jarang tersandung. Bahkan sejujurnya, aku mulai bisa melihat hal-hal yang tidak bisa kulihat dulu dengan mata terbuka.

Tiap malam aku sering melihat ke arah hutan. Rumah hitam dengan kayu mahoni menyenangkan untuk dipandang. Aku mengira-ngira siapa saja yang tinggal disana. Ah! Mungkin perempuan yang kutemui tempo hari tinggal di rumah hitam.

Siang harinya aku akan berpura-pura bahwa tak terjadi apa pun. Aku akan pura-pura sangat bosan dan rewel meminta keluar pada ibu, ayah, atau siapa pun yang mengantarkan makan untukku.

“Apa yang kau lakukan Ann?” tanya Ibu berteriak histeris.

Siang itu aku melihat ibu berlari ke arahku. Tangannya mencengkram erat bahuku. Aku meringis saat ibu kembali berteriak tepat di mukaku.

“Buka matamu!” teriak ibu.

Aku bingung. Apa maksud ibu? Bukankah kini aku melihatnya seperti biasa? Aku bahkan bisa melihat gurat marah dan cemas di matanya.

“BUKA MATAMU!” teriak ibu makin keras.

Ayah dan beberapa orang ikut masuk ke kamarku. Ibu memegangi kelopak mataku dan menariknya. Waktu itu, aku baru sadar bahwa aku sama sekali tak perlu membuka mata untuk melihat sekitarku.

“Sakit!” teriakku.

“Ada apa?” tanya kepala suku.

“Dia telah jatuh pada hitam, Noi! Dia sudah memiliki mata ketiga. Dia sudah jadi bagian dari rumah hitam” jawab salah seorang tetua.

Aku tak tahu apa artinya, tapi ibu masih berusaha membuka kelopak mataku yang entah kenapa terasa amat berat. Tiap setitik cahaya masuk kemataku, aku merasa tersengat ribuan tawon. Namun ibu tak peduli teriakanku, ibu masih saja memaksa.

“Ann, jika kau tak membuka matamu, ayah tak akan pernah memaafkanmu!” ancam ayah. Namun sekeras apa pun usahaku, aku tetap tak bisa membukanya.

“Dia telah jatuh!” teriak warga yang lain. Susul menyusul hingga aku yakin kabar itu sampai ke tempat terjauh dan terpelosok di tepi desa sekali pun.

“Noi, anakku adalah bagian dari desa kita! Dia bukan bagian dari rumah terkutuk itu!” pinta ayah.

“Kumohon jangan buang anakku, Noi!” ibu ikut berlutut di kaki kepala suku.

Aku masih meringkuk di tepi kamar. Tak ada seorang pun yang mencoba mendekat, bahkan sejujurnya mereka justru tampak menghindar. Pembicaraan orang dewasa memang sering membosankan dan sulit dimengerti, namun kali ini aku sepertinya paham. Ayah dan ibu tak pernah berlutut pada orang lain sebelumnya.

Di sudut ruangan, aku melihat perempuan dengan gaun hitam tempo hari. Wajahnya terlihat lebih berseri. Hal pertama yang menarik perhatianku darinya adalah mawar putih di sela rambut dan telinganya, satu-satunya warna bukan hitam yang ia kenakan.

Melihat kedatangannya, warga desa tiba-tiba saja menutupi mata mereka dengan kedua tangan. Bahkan ayah dan ibuku.

“Apa kau ingin berangkat sekarang? Perjalanan kita akan terasa sangat jauh” tanyanya mengulurkan tangan.

Aku mengangguk tanpa aku sadari. Jari-jariku berpautan dengan jarinya. Dia menuntunku memasuki hutan tanpa membiarkanku mengucap sepatah kata pun. Di kejauhan aku melihat rumah hitam. Kayu mahoninya terlihat terkelupas di beberapa tempat. Tiang-tiangnya diepnuhi tanaman menjalar. Aku sempat ragu.

“Semakin kau berpaling, semakin jauh perjalanan ini akan berakhir, Ann!”

Perempuan itu benar. Perjalanan kami terasa amat jauh.

Bajuku sudah kekecilan saat aku sampai di rumah itu. Puluhan perempuan lain dengan gaun hitam datang menyambutku di depan pintu. Aku disilahkan menempati sebuah kamar, diajari cara berdandan, melukis, menari, bahkan memasak.

Suatu masa, saat tubuhku telah mencapai kematangan, aku mendapati seorang gadis kecl berlari ke arahku. Matanya berbinar.

“Apa kau buta?” tanyanya tak mampu menyembunyikan rasa penasaran yang ia miliki.

“Apa aku terlihat seperti orang buta?” tanyaku. Dia menggeleng.

Sepertinya aku pernah tahu kejadian serupa, dulu, dulu sekali.

END

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: