What Does It Mean to be the Alumni?

“Kenapa pulang kampung menjadi hal yang selalu dirindukan oleh anak rantau?”

Pertanyaan ini akan sangat mudah dijawab, bahkan oleh orang yang tidak pernah merantau sekalipun. Rumah menjadi tempat yang selalu dirindukan karena disanalah tempat tumbuh, mempelajari hal-hal baru. Setiap sudut dari sebuah rumah menyimpan kenangan tentang tumbuh kembang kita, tangga tempat kita pernah terjatuh, halaman tempat kita bermain, atau bahkan gudang tempat kita pernah dikurung sebagai hukuman. Namun, di atas itu semua, hal yang paling dirindukan dari sebuah rumah adalah orang yang berada di rumah tersebut, orang tua dan saudara. Orang tua yang sebagai tokoh utama scene-scene yang ada di rumah.

Sekolah juga demikian. Ia juga selalu dirindukan layaknya kampung halaman. Sejenuh apapun Anda dengan suasana sekolahan, tak lama setelah lulus, Anda akan rindu suasana menjemukan itu.

Ketika seseorang menyelesaikan pendidikannya kemudian menjadi alumni, ia merasa bangga. Bangga karena rasa percaya diri untuk memulai fase hidup yang baru. Bayangan indahnya kursi perkuliahan terbayang di depan mata; tanpa seragam, tanpa aturan-aturan yang sangat ketat yang umum ditemui di bangku sekolah, terlebih pesantren. Namun, perasaan itu tidak bertahan lama dan akan segera digantikan oleh rasa rindu akan bangku sekolah.

Kenangan dan memori menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan. Tak boleh ada satu momen reuni, besar atau kecil, tanpa mengulang kembali kenangan-kenangan di masa sekolah. Tidak salah sepertinya Chrisye mendendangkan, masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah.

Hal ini juga tentu dirasakan oleh alumni Sumatera Thawalib Parabek, sama saja apakah mereka itu alumni atau alumnus (alumni ndak lulus, istilah yang kadang dipakai untuk santri yang pernah mondok tapi tidak menyelesaikan sampai kelas akhir). Bagi angkatan sebelum 2004, mungkin masih sangat ingat dengan bangku panjang di masing-masing kelas yang tiap meja diisi oleh empat orang, lengkap dengan pembagian batas kekuasaan yang tidak boleh dilewati oleh teman sebelah terukir jelas di atas meja. Atau bangku kehormatan yang ada di kelas-kelas aliyah, bangku yang meja dan kursinya nyambung, dengan postur meja yang miring, bangku-bangku yang menguji kekuatan santriwan ketika piket sepulang sekolah. Hal-hal kecil seperti itupun tidak luput dari perbincangan mewakili kerinduan pada sekolah.

Kita mulai mentertawakan diri sendiri. Ketika rambut dicolak, ketika mencontek ujian, ketika lari bolos sekolah, dan ketika dihukum oleh guru. Nah, ketika sudah berbicara guru, semua menjadi semakin menarik. Karena, tidak bisa dipungkiri, kerinduan terbesar bukan pada bangunan sekolah, bukan pada ruang kelas atau pojokan warung tempat biasa berkumpul dengan teman-teman. Yang paling dirindukan seorang alumni dari sekolahnya adalah guru-guru.

Bagi saya pribadi masih sangat jelas dalam ingatan sosok-sosok guru yang telah menanamkan berjuta hal baik yang kemudian menjadi bekal dan menjadikan saya diri saya yang sekarang. Dan saya yakin beliau-beliau pun masih sangat dekat di dalam ingatan para alumni lainnya. Sebut saja Almarhum Inyiak Khatib Muzakkir, suara beliau yang bahkan penuh semangat, cara mengajar apa adanya namun sangat membekas dan mantra “jari-jari” yang selalu dirindukan di setiap kelas beliau. Ustadz Zakiar Asman, guru bahasa Inggris yang juga merupakan Waka. Kesiswaan sekitar tahun 2001 -2007 memiliki pesona wibawa sendiri yang selalu dirindukan santri. “Don’t Look At me, Look At Your Book” , kata sakti beliau yang sering beliau ucapkan ketika mengajar, kumis tebal beliau pun menjadi ciri khas yang tak bisa dilupakan. atau Ustadz Deswandi, belajar di kelas bersama beliau selalu menjadi ha yang ditunggu-tunggu. Begitu banyak sosok-guru lain yang sangat membekas di hati.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Tidak sedikit dari kita yang kemudian memutuskan memilih jurusan apa atau ingin jadi apa, berdasarkan guru yang kita idolakan. Seorang doktor bahkan profesor sekalipun mendapatkan benih ilmu yang dia kembangkan sekarang dari gurunya ketika bersekolah. Itulah mengapa ia begitu rindu. Sekali berkunjung ke sekolah, hal yang paling ingin dilakukan adalah menemui guru-gurunya. Mungkin hanya sekedar untuk bercerita nostalgia, dan sebagian lain ingin berbagi kisahnya di luar sana.

Senang tiada tara ketika bisa bersalaman, duduk, dan bercerita dengan beliau. Jadi, dapat Anda bayangkan, jika sebagai alumni salah seorang kita berkunjung ke sekolah, tapi tidak bisa menemui guru-guru yang kita tuju, galau-lah sudah. Kunjungannya terasa kosong.

Bukan karena beliau sudah tiada, tapi hanya karena beliau sudah tidak mengajar atau beraktifitas disana lagi disebabkan aturan yang tidak dapat kita pahami terjadi dalam dunia pesantren. Kita sangat memahami, semakin tua seorang guru maka semakin besar kebijaksanaan yang beliau miliki, dan itulah yang dibutuhkan pesantren. Tidak usah bicara soal produktifitas, kehadiran guru tua saja di sekolah sudah memberikan nilai positif yang luar biasa. Tatapan beliau, cara beliau bersikap, dan yang terutama adalah nasehat-nasehat beliau kepada yang muda, itu yang sangat dibutuhkan.

Bayangkan saja, ketika kita jauh-jauh pulang dari rantau dengan menyimpan rasa rindu pada orang tua. Ketika samai di rumah, yang kita temui hanyalah rumah kita yang mungkin memang terlihat lebih bagus dan mewah dari sebelumnya, tapi kta tidak bisa menemui orang tua kita, yang kita tahu persis beliau masih hidup. Bagaimanakah rasanya?. Itu jualah yang dirasakan ketika berkunjung ke sekolah tapi tidak bisa menemui guru-guru tua yang kita cintai. Apa yang membuat kita yakin bahwa itu adalah rumah kita? Bahwa itu adalah sekolah kita?

Menjadi seorang alumni tidak pernah berarti menjadi ‘mantan murid’. Guru tetaplah guru, dan alumni tetaplah seorang murid, meski mereka telah meninggalkan guru mereka. Tapi itu hanya phisical, bukan emotional. Oleh sebab itu, menjadi alumni berarti menjadi seseorang yang selalu bernostalgia. Menjadi alumni sekaligus mitra mengajar guru-guru? Itu berarti menjadi orang yang paling hormat kepada guru-guru tersebut.

What does it mean to be the alumni? Menjadi alumni berarti menjadi orang yang gagal move-on dari guru-guru.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: