Yang Tak Pandang Bulu

Ada sebuah streotype yang berkembang di masyarakat mengenai keberadaan santri. Streotype tersebut sedikit banyaknya telah menyudutkan santri di satu sisi dan pesantren di sisi lain. Ada yang beranggapan, santri tidak siap kerja, ilmu yang mereka dapatkan di pesantren tidak akan membawa mereka kepada kesuksesan. Atau dalam pandangan lain, buat apa menyekolahkan anak ke pesantren, mau jadi apa dia setelah dewasa? Jadi penceramah? Bagaimana dia bisa menghidupi keluarganya? Atau dalam tataran praksis, pesantren dijadikan ‘ban serap terakhir.’ Ketika seorang anak tidak lulus tes penerimaan siswa baru di beberapa sekolah yang ditargetkan, akhirnya dengan ‘terpaksa’ iadisekolahkan di pesantren. Pada dasarnya, semua streotype tersebut meragukan kualitas seorang santri, apakah mereka bisa menjalani kehidupannya di zaman modern yang penuh teknologi ini jika ia hanya belajar alif-ba-ta saja? Akankah mereka menjadi orang sukses kelak?

Pertanyaannya, benarkah pencitraan tersebut begitu adanya, atau itu hanyalah rasa phobia yang tidak berdasar dan berlebihan? Mengapa kesuksesan dan prestasi dijauhkan dari santi menurut pandangan masyarakat? Apakah benar kesuksesan tersebut hanya milik mereka-mereka yang bukan santri, sehingga jatah kesuksesan yang ada mereka ambil, lalu santri tidak kebagian lagi? Mari kita renungkan huruf demi huruf berikut!

Jika kita bertanya, siapakah orang sukses? Mungkin kita akan memiliki pandangan yang berbeda, sesuai dengan sudut pandang yang bagaimana yang kita gunakan sebagai parameter kesuksesan tersebut. Ada yang berpandang orang sukses adalah pengusaha besar yang kaya raya dan memiliki bisnis yang sangat berharga. Ada juga yang berpandangan orang sukses adalah seorang ilmuan yang telah mendapatkan gelar kehormatan tertinggi dalam bidang akademik, dan telah berhasil mengarang sekian banyak buku, plus diundang ke sana ke mari untuk menjadi pembicara seminar, workshop, dan sebagainya. Sebagian lainnya menilai orang yang sukses adalah artis terkenal yang telah main di berbagai judul film, dikejar-kejar wartawan, dan menjadi konsumsi pemberitaan bagi publik. Sekali lagi, semuanya akan berbeda-beda sesuai dengan parameter yang digunakan.

Akan tetapi, pertanyaan yang semestinya tidak diabaikan adalah, siapakah yang mungkin sukses, siapakah yang akan sukses, atau siapakah yang akan berprestasi? Pertanyaan ini sedikit mundur satu langkah dari pertanyaan sebelumnya. Jika pertanyaan sebelumnya mengenai orang yang ‘telah’ sukses, maka pertanyaan yang satu ini mengenai yang ‘akan’ sukses. Mengapa pertanyaan ini penting? Alasannya cukup sederhana, yaitu sebagai cambuk bagi mereka yang ‘belum’ sukses supaya nantinya juga bisa hidup sukses.

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat dari dua sisi. Pertama, sukses itu sendiri. ‘Sukses’ adalah suatu kata yang mewakili makna keberhasilan yang dicapai seseorang dalam suatu hal. Pada hakikatnnya, kesuksesan merupakan hal yang diidam-idamkan semua orang. Setiap orang akan selalu berusaha untuk mencapai kesuksesan. Dan itulah sisi kedua, ‘orang’ atau ‘manusia’ yang mencari kesuksesan.

Tak dinanya, bahwa tidak ada orang yang ingin gagal. Lantas, bagaimanakah kesuksesan itu? Hal yang penting untuk kita sadari adalah bahwasanya kesuksesan itu buta dan oleh sebab itu ia tidak bisa memilih. Artinya, ia tidak akan memilih-milih siapa yang akan didekatinya. Ia akan mendatangi siapa saja, dimana saja. Ia berkelana ke segala arah, dan mendekati ‘manusia-manusia’ yang pantas untuk didekatinya tanpa pandang bulu. Ia tidak pernah berpikiran begini: “Ah, dia orangnya jelek, aku tidak mau menghampirinya.” atau “Dia kan jerawatan” atau “berkulit gelap” atau apa saja. Kesuksesan tidak akan pernah begitu, karena dia buta dan tidak bisa memilih. Apa artinya? Artinya setiap orang, bagaimanapun dia, dimanapun ia berada, kapanpun waktunya, berkesempatan untuk didatangi kesuksesan, tanpa kecuali! Tidak ada alasan bagi kita untuk pesimis menatap kesuksesan. Kesuksesan itu buta dan tidak bisa memilih.

Dari sisi kedua, manusia. Disampaikan sebelumnya, bahwa semua manusia mendambakan kesuksesan. Tidak satu pun yang menolak sebuah kesuksesan. Akan tetapi, permasalahannya tidak semuanya berusaha dengan gigih mencapai kesuksesan itu. Akibatnya, tidak semua orang juga ‘pantas’ didatangi kesuksesan. Maka, selayaknyalah kita berusaha untuk menjadi ‘pantas’ menerima kesukesan, karena ia hanya akan menghampiri manusia yang pantas untuk dihampiri. Berusahalah sekuat tenaga, dengan gigih dan tanpa putus asa. Semua usaha akan menempatkan kita selangkah demi selangkah menuju sebuah titik yang akan didatangi kesuksesan, yaitu kepantasan.

Penjabaran yang disampaikan di atas sebenarnya merupakan semangat yang direfleksikan dari Alquran; al-Haqqu min rabbika fala takunu min al-mumtarin… (disebutkan di banyak ayat dalam Alquran, seperti QS. 2: 147, QS. 3. 60, dsb). “Al-Haqq itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu menjadi orang yang meragu!!!” Lazimnya, al-Haqq diterjemahkan sebagai kebenaran. Kebenaran merupakan suatu yang diakui seluruh manusia dalam hati nuraninya. Setiap manusia pasti mendambakan al-Haqq, dan al-Haqq adalah hal yang sepantasnya dan selayaknya didambakan. Pada segi ini, terlihat titik temu antara al-Haqq dengan kesuksesan. Tanpa maksud menyelewengkan makna dari al-Haqq, permasalahan kesuksesan yang kita bicarakan tampaknya bisa dikorelasikan dengan ayat ini. Sebagaimana al-haqq, kesuksesan merupakan hal yang pantas dan selayaknya diidamkan. Akan tetapi ia adalah milik Tuhan, bukan milik manusia. Pada dasarnya kesuksesan itu terpisah dari manusia. Namun, di kemudian hari ia akan menghampiri manusia yang pantas untuk dihampiri, dan dalam bentuk ini lah Allah menyayangi hamba-Nya. Allah Maha Adil. Allah akan memberikan kesuksesan bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Tinggal manusia yang harus menentukan, pantaskah ia menerima kesuksesan, atau tidak?

Mari kita perhatikan ayat lainnya: “fastabiqū al-khairāt aina ma takunu ya’ti bikum Allahu jami’a…” (QS. 2: 148). Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan, dimanapun kamu berada, Allah akan mendatangimu..!! Semakin jelaslah, bahwa setiap manusia harus berusaha dan berlomba-lomba dalam kebaikan, yang dalam hal ini kesuksesan. Dimanapun kita berada, setitik usaha mesti dijalankan. Setelah itu, menuju kepada usaha pada titik berikut, berikut, dan seterusnya sehingga mencipatakan sebuah garis. Jangan berhenti sampai di situ, lanjutkan lagi kegigihan sebelumnya, sehingga akhirnya kita pantas untuk dihampiri kesuksesan. Karena, dimanapun kita berada, Allah akan mendatangi kita dengan kesuksesan sebagai hadiahnya.

Dari penjabaran di atas, tampaklah bahwa semua orang berkesempatan menggapai kesuksesan, tidak peduli apakah ia santri atau bukan, jelek atau gagah (cantik), hitam atau putih, tanpa pandang bulu. Sementara itu, tugas kita adalah beruaha sekuat tenaga, bagaimana menjadikan diri kita masing-masing pantas untuk menerima kesuksesan. Allah Maha Adil, dan semua diberi kesempatan untuk menikmati kesuksesan. Semua manusia yang pantas menerima kesuksesan, pasti akan dihampirinya. Jadi, mungkinkah santri sukses? Kenapa tidak? Dan pertanyaa terakhir, bagaimanakah streotype yang disampaikan di awal? Silahkan anda jawab sendiri!!

Wassalam,

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: