Zaman Telah Berubah

Zaman telah berubah. Begitu yang diputuskan oleh orang-orang semenjak perang besar berakhir.

Geroy ingat saat ia mengangkat pedangnya yang berlumuran darah raja tiran. Suara sorakannya disambut sorakan rekan-rekannya, lalu menggema di sekitaran ibu kota. Perempuan dan anak-anak yang tadinya bersembunyi, dijemput oleh suami, saudara, dan ayah mereka.

“Kita telah menang!!!”

Wajah-wajah ketakutan berganti lega dan bahagia. Kini yang terbayang dalam benak mereka adalah ladang-ladang mereka yang ditumbuhi gandum, buahan, dan sayuran. Periuk mereka akan tetap berisi cukup untuk makan sekeluarga, bahkan saat musim dingin sekali pun.

“Tirani telah runtuh!!!”

Wajah-wajah ketakutan berganti lega dan penasaran. Kini yang terbayang dalam benak mereka adalah pemberian cuma-cuma dari istana. Uang mereka yang dulu dirampas atas nama pajak akan kembali ke dompet masing-masing. Beberapa sudah merencakan membeli pakaian baru dan memperbaiki atap mereka yang bocor. Kini anak-anak mereka tak akan kebasahan, saat hujan lebat sekali pun.

Geroy ingat saat para kumuh dan kelaparan beramai-ramai mengarak-arak pasukan pembebasan. Penyakit dan lapar mereka seolah terobati lewat lagu kebangsaan yang dinyanyikan terus menerus. Kaki mereka yang telanjang, mampu menggotong prajurit bersepatu kulit.

Lagu kebangsaan membakar dada kaum tertindas. Rasa suka cita mengetuk pintu rumah orang-orang miskin. Seluruh kota larut dalan nyanyian dan tarian sepajang malam. Barulah setelah semua orang terlelap di jalan-jalan kota, Geroy ikut menyanyi.

Keesokan harinya, sisa-sisa suka cita itu lenyap tanpa sisa. Semua orang kembali disibukkan oleh pekerjaan mereka. Petani kembali ke sawah, pedagang kembali membuka toko mereka, nelayan kembali melaut, kecuali para polisi dan pegawai negri.

Tirani telah hancur. Geroy sendiri yang memastikan itu dengan pedangnya. Sedari kecil ia disuapi kejamnya jalanan. Ia anak seorang lacur yang tak tahu siapa atau dimana ayahnya. Tiap lebam di tubuhnya, tiap patah di tulangnya, menjadikan ia lebih kuat. Satu-satunya hal yang ia pelajari adalah cara berkelahi. Oleh karena itu, saat seorang pemuda usia dua atau tiga tahun diatasnya mengajak untuk bergabung dengan pasukan pembebasan dengan iming-iming sup panas dan roti untuk dia makan dua kali sehari, ia langsung menerima.

Sayangnya, tidak ada yang memberi tahu, bahwa ia akan jadi pahlawan.

Subuh-subuh buta ia dijemput menuju istana. Bersamaan dengan tumbangnya raja tiran, maka pemimpin pasukan pembebasan sontak naik menggantikan tugas sang raja. Semua berjalan cepat bagi Geroy yang tak mengerti. Bulan pertama runtuhnya tirani, semua rakyat bergotong royong membereskan kekacauan sisa pertempuran. Pemakaman masal sempat dilakukan tiga kali. Pertama untuk pasukan pembebasan yang gugur di medan perang, lalu untuk raja tiran beserta para pendukungnya, dan yang terakhir meski tidak Geroy pahami, yaitu pemakaman untuk undang-undang.

Bulan berikutnya diadakan pemilu pertama dalam sejarah Negara. Beberapa nama diusulkan, kampanye dilaksanakan, meski jauh-jauh hari sudah terlihat jelas siapa yang bakal duduk di kursi kekuasaan.

Tepat tiga bulan runtuhnya tirani, pemimpin pasukan pembebasan resmi dilantik menjadi kepala Negara dengan perolehan sura 98%. Suka dan cita mengelilingi kota. Pesta semalaman suntuk menyambut pemerintahan yang baru.

Geroy sempat ditawari menjadi pembesar istana. Siapa pun tahu namanya dan jasanya dalam perang pembebasan. Dia menggeleng. Seseorang yang buta huruf sepertinya tidak akan betah duduk di balik meja istana. Dia yakin betul.

Atas jasa-jasanya Geroy dihadiahi sebuah rumah yang nyaman dengan tanah cukup luas. Sebuah kertas bukti kepemilikan 10 kg emas dan berlian diserahkan langsung ke tangannya saat ia mengambil kunci rumah. Geroy berterimakasih pada senior yang dulu mengajaknya bergabung di pasukan pembebasan. Dia tidak hanya mendapat sup hangat dan roti sebagai makannya seumur hidup, kini ia mendapat gelar pahlawan dan tak perlu memukul orang di jalanan demi makan sehari-hari. Geroy mensyukuri hidupnya yang begitu beruntung.

….

Berhentilah membaca di sini jika anda menginginkan sebuah kisah yang berakhir bahagia

Zaman telah berubah. Begitu yang diputuskan oleh kepala negara semenjak perang besar berakhir.

Dua bulan setelah dilantik, Pemerintahan melarang senjata tajam beredar di tangan masyarakat. Kini, hanya tukang daging yang boleh memiliki pisau-pisau besar, selebihnya hanya ada pisau kecil, cangkul, kapak, dan parang di perumahan dan ladang. Pemerintah menganggap senjata tajam hanya akan menjadi pemicu konflik jika

dibiarkan beredar. Pun masyarakat tidak keberatan. Mereka memiliki kedamaian, mereka tidak perlu lagi pedang dan pistol kecuali untuk berburu ke hutan. Untuk itu, bisa mereka urus nanti saja.

Dua bulan ini, Geroy hidup sederhana untuk seorang pemuda yang bergelar pahlawan dan memiliki 10 kg emas dan berlian. Dia terbiasa makan hanya dua kali sehari dan dengan menu yang sama sekali tidak mahal. Sup daging terdengar begitu mewah di telinganya, seumur hidup ia hanya menikmati sup sayur dengan tambahan kentang sesekali.

Begitu seterusnya. Setiap hari. Sampai akhirnya ketika ia mulai menua, tabungan habis, emas berliannya disita negara, dan tiada seorang pun mengingat namanya lagi sebagai pahlawan pembebasan, ia menyadari banyak hal.

Pedang kebanggaannya telah lama berkarat, dan ia bahkan tak memiliki keinginan untuk memolesnya lagi. Dia tinggal sendiri, tiada beristri atau beranak. Rumahnya perlahan bocor dan lapuk di beberapa bagian. Tanahnya yang luas menyempit tiap kali ia membutukan uang. Dan yang paling buruk dari segala hal, ia tidak punya apa pun untuk ia banggakan.

Di telinganya berdenging ucapan sang kepala Negara puluhan tahun yang lalu.

“Terimakasih telah menjadikanku kepala Negara. Tugasmu selesai disini, Geroy. Dunia yang akan kubangun tidak memerlukan tukang pukul. Aku membutuhkan orang yang lebih banyak memakai otaknya. Tapi tak apa. Jasamu cukup menjadi alasan membuatku membiarkanmu hidup. Sekali lagi, terimakasih, Geroy”

Geroy tersadar. Tidak ada yang memberi tahu, bahwa ia akan jadi pahlawan.

Dia memang tidak hadir sebagai pahlawan. Dia hanya tukang pukul pasukan pembebasan.

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: